PENDEKAR KERIS SAKTI NAGA SANJAYA
BABAD PAMUNGKAS
Karya; Mike Simons
Bab 1
Pertarungan antara Resi Raksasa—perwujudan keenam dewa kerajaan perut bumi—melawan para tokoh dunia persilatan yang masih tersisa pun berjalan semakin seru dan menegangkan.
Bujang Gila Tapak Sakti, yang berhasil mendaratkan pukulan sakti Mahameru Murka ke arah dada Resi Raksasa, harus bernasib apes merasakan tamparan telapak sang resi yang begitu keras. Akibatnya, pendekar sahabat karib Pendekar 212 ini sampai terlempar berputar-putar dan menghempas sisa onggokan Candi Prambanan yang melayang di udara dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Sementara itu, Nyi Roro Kidul yang berada di atas kereta kencananya kembali mengibaskan tali kekang. Tiga pasang kuda pilihan miliknya tersebut saling berkejaran memutari tubuh Resi Raksasa. Dari atas cermin bulat raksasa yang bernama Cermin Pualam Sakti Dasar Samudera yang melayang di atas kepala sang ratu, terlihat melesat cahaya angker berwarna biru yang tidak putus-putusnya menghantam tubuh Resi Raksasa!
Resi Raksasa yang merasa kerepotan oleh silaunya cahaya yang terus menghantam tubuh dan menyilaukan pandangannya, berusaha menangkap Nyi Roro Kidul. Namun, niat itu urung dilakukan manakala pundak sebelah kanannya tiba-tiba terasa sakit luar biasa. Saat dirinya menoleh, rupanya Mahesa Kelud telah berhasil menghujamkan Pedang Dewa dan Keris Ular Emas miliknya ke pundak kanan sang resi!
“Jahanaaaam!!!” bentak sang Resi Raksasa sembari berusaha menepuk tubuh Mahesa Kelud menggunakan tangan kirinya.
Suara sang raksasa yang menggelegar memecah angkasa menandakan bahwa ia akhirnya merasakan juga apa itu rasa sakit yang sesungguhnya. Menghilangnya kabut dewa dan terbebasnya Kiai Naga Waskita serta Kiai Naga Wisesa—kedua naga pemutar poros inti bumi—menandakan bahwa kekebalan yang dimiliki resi gabungan keenam dewa ini akhirnya mulai memudar. Merasakan sambaran angin keras yang datang ke arahnya, Mahesa Kelud terpaksa melepaskan pegangannya pada kedua senjata tersebut dan melompat jauh menghindari tepukan sang dewa raksasa.
Sementara itu, gelombang air laut mahadahsyat semakin naik dan mulai sampai ke atas paha sang Resi Raksasa. Setan Ngompol, yang menggantung di balik celana bagian dalam sebelah kanan sang resi, mulai menyumpah panjang-pendek sambil terus berusaha memanjat ke atas.
“Kau sudah sampai di mana, Kakek Bau Pesing?” satu suara bisikan masuk ke arah telinganya yang terbalik.
“Sedikit lagi, Ning! Tapi aku kesusahan soalnya air laut sudah sampai sebatas bijiku!” balas sang kakek bermata jereng.
“Tahan dulu urusan bijimu itu, Kek! Masih ada biji lain yang harus kita utamakan!” ucap bisikan yang rupanya milik Naga Kuning, yang ternyata juga sedang merayap di bagian celana sebelah kiri.
Di sisi lain, melihat datangnya serbuan gelombang air laut mahadahsyat itu, hati Sri Baginda Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsangan terasa teriris sedih. Tanpa sadar ia menggigit bibirnya. Gelombang dahsyat dengan ketinggian ratusan tombak ini memang datang bersamaan dengan kedatangan Nyi Roro Kidul, setelah sebelumnya berhasil menewaskan Ratu Agung Penguasa Perut Bumi di dasar laut selatan.
Khawatir dan cemas akan keadaan rakyatnya, sang Maharaja menjadi resah dan mengeluarkan keluhan lirih. "Bagaimana nasib kalian, wahai rakyatku... Wahai Sang Hyang Widi Wisesa, mohon selamatkan seluruh rakyatku yang tertimpa kemalangan ini..." keluh sang Raja.
Roro Jonggrang yang terbang melayang di sampingnya nampak memandang sang Raja dengan mata teduh. Sang dewi pemilik Candi Prambanan ini pun kemudian menggapai tangan sang Maharaja lalu berujar, "Kau benar-benar raja yang sangat mencintai rakyatmu, wahai Rajaku. Namun, coba kau lihat dengan mata batinmu. Sesungguhnya masih banyak orang baik sepertimu di dunia ini yang peduli dan tulus mencintai rakyat Mataram..."
Selesai berujar, sang dewi menyalurkan kekuatan yang dimilikinya. Getarannya merambat dari sepasang tangan yang saling menyatu, naik menuju mata Maharaja Mataram. Sang Maharaja merasakan sensasi dingin pada matanya, lalu ia pun memejamkan mata.
Begitu matanya terpejam, secara mata batin sang Raja melihat penglihatan yang datang bergantian. Pemandangan itu sangat mengharukan dan luar biasa! Dengan ilmu Menembus Batas Cakrawala yang dialirkan oleh Dewi Roro Jonggrang, sang Maharaja dapat melihat para tokoh dunia persilatan yang masih tersisa—seperti Anggini, Bidadari Angin Timur, Purnama, Dewi Dua Musim, Panji Ateleng, dan yang lainnya—nampak memecah diri menjadi ribuan sosok dan berkelebat laksana kilatan petir ke segala penjuru tanah Mataram!
Sebagaimana diketahui, para tokoh dunia persilatan ini mendapatkan ilmu Pecah Seribu Bayangan Seribu Sukma dari Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Wujud, serta ilmu Mengendarai Petir Melintasi Ujung Bumi dari Yang Mulia Dewa Agung Penyangga Langit dan Bumi. Kedua ilmu ini memungkinkan penggunanya membelah diri menjadi ribuan sosok dan melesat laksana petir. Kini, kemampuan itu digunakan untuk menyebar ke segala penjuru bumi Mataram guna menjemput semua rakyat yang baru terbebas dari jeratan kabut dewa, lalu membawa mereka menuju tempat tertinggi: puncak Gunung Merapi!
Para tokoh sakti ini melesat secepat kilat ke segala penjuru; baik keraton, alun-alun di kotaraja, desa-desa, setiap rumah, maupun pasar dan persawahan. Para pendekar langsung menggendong atau membopong rakyat yang mereka temui, kemudian berlari secepat kilat berkejaran dengan gelombang laut raksasa ke arah puncak Merapi.
Melihat keadaan sang resi yang menggeliat kesakitan akibat tikaman Mahesa Kelud, Dewi Agung Bunga Mawar beserta Dewi Agung Bunga Melati dan para dewa yang tersisa—yang tidak tergabung dalam Rantai Jiwa Hati Dewa dan Manusia—segera menggunakan kekuatan dewa mereka. Serentak, mereka mengeluarkan ilmu Sepasang Pedang Dewa!
Para dewa dan dewi yang memulihkan diri di balik awan ini sangat mengerti bahwa sejak moksanya Yang Mulia Dewa Agung Penyangga Langit dan Bumi, waktu dan kekuatan mereka tinggal sedikit. Kekuatan itu harus dikeluarkan pada saat yang benar-benar tepat. Dengan mengikuti aba-aba dari Dewi Agung Bunga Mawar dan Dewi Agung Bunga Melati, mereka pun membeliakkan mata seraya berbarengan melepaskan serangan ke arah Resi Raksasa.
Hujan ilmu Sepasang Pedang Dewa tercurah dari langit, berseliweran memenuhi udara menuju arah Resi Raksasa! Sang resi rupanya menyadari tekanan luar biasa dari serangan puluhan sinar pedang tersebut. Tanpa diduga, ia mendongakkan kepala. Dari sepasang matanya, melesat pula sinar berbentuk pedang raksasa yang menyala angker untuk memapak serangan yang datang!
Sang resi ternyata turut mengeluarkan ilmu Sepasang Pedang Dewa dari kedua matanya dalam wujud sepasang pedang raksasa berukuran ratusan kali lebih besar dari milik para dewa. Suara memekakkan kembali terdengar saat sinar pedang sang resi beradu dengan gabungan ilmu sinar inti dewa milik para dewa langit.
Sepasang pedang cahaya raksasa tersebut layaknya pisau mengiris mentega manakala menghantam gabungan sinar pedang para dewa. Serangan para dewa sontak raib musnah, meninggalkan serpihan sinar yang berasap. Tidak sampai di situ, sinar pedang milik sang resi terus melaju terbang, menebas dan memburu dewa-dewi di atas awan.
"Cepat masuk ke dalam barisan rantai! Jangan sampai tubuh kalian terkena sambaran sinar pedang itu...!" teriak Dewa Tuak memperingatkan.
Mendengar teriakan Dewa Tuak, para dewa bergegas melesat ke dalam lingkaran Rantai Sambung Jiwa Hati Dewa dan Manusia. Namun sayangnya, hanya beberapa dewa yang berhasil kembali. Selebihnya mati tertebas sinar pedang raksasa sang resi. Dewi Langit Bunga Mawar dan Dewi Langit Bunga Melati termasuk dua orang yang tewas hancur oleh ganasnya ilmu tersebut.
Sementara itu, jauh di atas angkasa sana—di antara kegelapan yang hitam kelam tak terhingga dan bebatuan yang mengambang tak beraturan—sesosok tubuh manusia nampak melayang pelan dalam keheningan. Tubuh Pendekar 212 nampak meringkuk ringkih dalam kelamnya semesta. Matanya yang kosong terbuka sebagian, menatap ke arah ketiadaan.
"Selesai sudah..." batin sang Pendekar dengan perasaan lelah yang begitu mendalam. Tubuhnya yang kosong tanpa tenaga sedikit pun mulai menjauh dari ujung cahaya mentari di angkasa. Dirinya sudah benar-benar pasrah dan menyerah atas semua yang telah terjadi.
Teks yang Anda bagikan memiliki narasi yang sangat emosional dan dramatis. Untuk memperbaiki tanda bacanya, saya telah melakukan beberapa penyesuaian:
* Penggunaan Huruf Kapital: Menyesuaikan kapitalisasi pada nama gelar, nama tempat (Mataram Kuno, Gunung Padang), dan nama jurus.
* Tanda Titik dan Koma: Memperbaiki jeda kalimat agar alur cerita lebih enak dibaca dan tidak melelahkan (mengurangi kalimat yang terlalu panjang tanpa jeda).
* Tanda Petik (" "): Memastikan dialog antartokoh terbungkus dengan benar.
* Efek Dramatis: Menggunakan tanda titik tiga (elipsis) pada dialog yang terputus atau penuh perasaan.
Berikut adalah versi yang telah diperbaiki:
Versi Perbaikan Tanda Baca
Berbagai pukulan, baik jasmani maupun mental, telah menghancurkan jiwa dan raganya sampai sejauh ini. Kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan anak dan istri yang dikasihi, serta harus melihat guru tercinta yang membesarkannya dan mengajari ilmu kesaktian meninggal secara mengenaskan di depan matanya sendiri, benar-benar membuat jiwa sang pendekar lumat, hancur, dan terpukul.
Ini melebihi penderitaannya saat ratusan tahun menjadi batu di Mataram Kuno; bahkan melebihi saat dirinya harus menanggung derita menjadi bongkok dan menyandang gelar Iblis Bongkok Bulan dan Matahari akibat peristiwa pengadilan Takhta Dewa dan pengorbanan Luhcinta atau Dewi Langit Bunga Tanjung.
Tubuh sang pendekar terus berputar dan melayang pelan; dirinya benar-benar sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Seluruh tubuhnya yang hancur babak belur akibat pertempuran terakhir—yang masih terus terjadi di Bumi Mataram—perlahan mulai dingin membeku. Saat hendak memejamkan kedua matanya, Pendekar Dua Satu Dua tiba-tiba kembali mengingat satu peristiwa yang pernah dilalui sebelumnya; satu peristiwa yang pernah membuat dirinya begitu hancur dan terluka.
Dilihatnya dalam ingatannya tersebut, Ratu Duyung mengangkat kedua tangannya berusaha menggapai wajah sang pendekar. Dengan tangan bergetar, Ratu Duyung perlahan melepas tali topeng yang dikenakan Iblis Bongkok Bulan dan Matahari. Begitu topeng ludruk kayu cendana lepas dari wajah sang Iblis Bongkok, sepasang mata Ratu Duyung nampak semakin sembab dan berkaca-kaca.
Di hadapannya nampak satu wajah pria dewasa yang menatap dirinya penuh gejolak perasaan. Sepasang mata yang juga terlihat berkaca-kaca dan terlihat terlalu lama menanggung penderitaan.
"Akhirnya aku bisa kembali melihat raut wajahmu, suamiku..." ucap sang ratu sembari tersenyum dan membelai pipi lelaki di hadapannya.
Lelaki yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Wiro Sableng. Ia berusaha mengangkat tangannya yang biru legam menghitam untuk memegang tangan istrinya, sang Ratu Duyung, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Tangannya kembali terjatuh lemas di samping kedua bahunya.
Seperti diketahui bersama, akibat terlalu sering menggunakan pukulan sakti Mentari Tengah Malam dan Pukulan Rembulan Tengah Hari yang terdapat dalam Kitab Jagat Pusaka Dewa, kedua tangan Pendekar Dua Satu Dua mengalami keracunan hebat. Sang pendekar terpaksa menggunakan ilmu yang belum sempurna tersebut kala bertarung melawan keroyokan Kanjeng Ratu Penguasa Perut Bumi dan para pasukannya, saat menyerbu istana dasar samudra untuk yang kesekian kali.
"Setelah sekian lama kita berpisah, akhirnya kita dapat bertemu kembali, Wiro suamiku..." desis lirih Ratu Duyung, masih sambil terus menatap Pendekar Dua Satu Dua.
"Jangan dulu banyak bercakap, intan istriku... Kau masih lemah... Kau baru saja melahirkan buah hati kita..." ucap Wiro dengan suara tersendat.
Ratu Duyung kemudian berpaling ke arah sampingnya, di mana bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya nampak menggeliat dalam lipatan bungkusan daun jati. Ratu Duyung kemudian kembali berpaling dan menatap ke arah Pendekar Dua Satu Dua yang berada di sisinya.
"Kau memiliki kewajiban yang harus kau lakukan terlebih dahulu, suamiku. Sebelum aku meninggalkan dirimu dan buah hati kita, aku ingin melihat kau membisikkan lantunan suci itu di telinga buah hati kita..."
Air mata tanpa bisa dibendung lagi merembes keluar dari pemuda yang ratusan tahun jasadnya tersembunyi membatu di Gunung Padang ini. Sang pendekar berusaha menggapai bayi perempuan yang terbungkus daun jati di samping tubuh Ratu Duyung. Namun apa daya, kedua tangannya tidak bisa digerakkan sama sekali.
"Biar aku membantumu, Kakak Pendekar," satu suara terdengar dari balik batu sebelah dalam, yang ternyata adalah suara Uban alias Jabrik Sakti Wanara. Bocah remaja itu sedari tadi diam bersembunyi di balik batu dalam Goa Cadas Kencana.
"Terima kasih, anak baik, anak bagus," ucap Pendekar Dua Satu Dua kala melihat usaha Uban yang dengan amat hati-hati dan perlahan mengangkat bayi dalam bedongan daun jati, lalu mendekatkan bagian kepala bayi berambut keemasan berkilau tersebut ke arah mulut Pendekar Dua Satu Dua.
Bab 2
Wiro kemudian melantunkan azan di telinga bayi yang merupakan buah hatinya dan Ratu Duyung, kemudian mengecup kening sang bayi sesaat. Melihat hal ini, Ratu Duyung nampak tersenyum dan kemudian terdengar berbisik lirih, "Kau pun memiliki kewajiban untuk memberikan nama kepada anak kita itu..."
Wiro menatap bergantian ke arah Ratu Duyung dan putrinya yang masih berada dalam pegangan Uban. "Aku memiliki sebuah nama, tapi jujur aku takut jika kau tidak berkenan..."
Ratu Duyung nampak tersenyum. "Katakan saja suamiku, aku sungguh ingin mendengar nama pilihanmu itu."
Wiro menatap ke arah sang putri yang berambut pirang keemasan dan memiliki mata berwarna biru lembut. "Aku memohon maaf sebelumnya istriku... sungguh tidak ada maksud apapun dalam hatiku ini... Entah mengapa aku begitu ingin menamakan anak kita ini dengan nama panggilan... Intan Suci Angin Timur."
Sepasang mata Ratu Duyung nampak membesar sesaat sebelum akhirnya tertawa dengan tersendat-sendat.
"Maafkan aku istriku... Aku akan memikirkan nama lain jika nama itu tidak menyenangkan hatimu..." ucap Wiro panik.
"Kau benar-benar ceriwis, Wiro... Namun tidak apa-apa... Aku menyukai nama itu. Dan mungkin setelah hari ini berlalu, aku bahkan berharap salah satu dari merekalah yang akan menjadi ibu pengganti dan pembimbing dari buah hati kita ini..." ucap Ratu Duyung sambil dengan tangan bergetar membelai kepala bayi dalam pondongan Jabrik Sakti.
"Intan... Aku percaya masih ada cara... Aku tidak ingin kita terpisah kembali seperti yang sudah-sudah..." desis Wiro sedih.
Ratu Duyung nampak tersenyum dengan mata sayu. "Kita sama-sama tahu keadaanku saat ini, Wiro. Dan itu bukanlah hal yang terpenting saat ini. Hal yang terpenting sekarang adalah keselamatan buah hati kita. Kau harus membawa anak kita ke tempat yang aman dan tersembunyi dari kejaran orang-orang Kerajaan Perut Bumi." Suara Ratu Duyung perlahan mulai terdengar melemah.
"Sekarang turunkan lehermu, suamiku... Aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kali..." ucap lirih hampir tak terdengar dari sang ratu.
Dengan berurai air mata, Pendekar 212 menurunkan lehernya dan membiarkan tangan ringkih yang gemetaran memeluk lehernya. Dengan menahan sesenggukan yang keluar dari mulutnya, Pendekar 212 nampak merapatkan wajahnya dan membenamkannya di pundak sebelah dalam sang istri. Sungguh begitu ingin sang pendekar untuk memeluk tubuh sang istri seerat-eratnya, namun apa daya kedua tangannya terkulai lemah dan tidak memiliki tenaga untuk melakukan hal tersebut. Banjir air mata nampak berlelehan di wajah sang pendekar kala mendengar bisikan kecil yang hampir tak terdengar, yang dibisikan oleh Ratu Duyung.
Setelah membisikkan kata-kata terakhirnya ke telinga Pendekar 212, mata sang Ratu Duyung nampak perlahan menutup dan sepasang tangannya yang memeluk leher sang suami nampak terkulai dan jatuh bersamaan dengan ambruknya tubuh sang Ratu Duyung dalam pangkuan sang suami.
Kesunyian tiba-tiba menyeruak, namun sepenghirupan napas kemudian, satu peristiwa yang menggetarkan hati terpampang di hadapan Jabrik Sakti Wanara. Satu raungan keras yang terdengar seperti gabungan suara raungan naga dan harimau yang terluka terdengar keluar dari mulut Pendekar 212! Matanya nampak terbuka memutih bercahaya mencorong, dan tubuhnya serta tubuh sang istri nampak tiba-tiba dikelilingi oleh satu pusaran angin badai yang berputar kencang mengelilingi tubuh sang pendekar dan jasad Ratu Duyung!
Dari dalam pusaran tersebut samar-samar terlihat bayangan dua ekor naga yang berwarna merah dan putih turut berputar resah mengelilingi Pendekar 212! Rupanya Naga Dewa Mentari dan Naga Dewi Rembulan yang bersemayam di kedua tangan Pendekar 212 bahkan turut resah dan merasakan raungan duka mendalam yang terpancar dari rasa kehilangan luar biasa yang dirasakan oleh Pendekar 212. Dinding batu yang terdapat dalam goa batu tersebut bahkan sampai terasa panas dan bergetar keras.
Jabrik Sakti Wanara yang mendekap bayi mungil Intan Suci Angin Timur sampai harus pontang-panting lari kembali ke sudut goa terdalam dan menyembunyikan tubuhnya di balik batu, sambil sesekali mengintip kejadian luar biasa yang terjadi di hadapannya. Hampir sepeminuman teh baru akhirnya suara raungan yang keluar dari mulut Pendekar 212 pun akhirnya terhenti. Putaran angin badai dan bayangan dua ekor naga pun perlahan pupus. Tubuh Pendekar 212 nampak mematung dengan pandangan kosong.
Hening yang mencekam akhirnya terpecahkan oleh hembusan napas yang keluar dari hidung Pendekar 212. "Kemarilah bocah baik, ada yang ingin kuminta pertolongan padamu," ucap Pendekar 212 tiba-tiba.
Dengan agak takut-takut, Uban pun perlahan beranjak dari batu tempat persembunyiannya. Wajahnya langsung tercekat kala melihat pria yang sebelumnya dikenalnya dengan sebutan Iblis Bongkok Bulan dan Matahari ini. Uban memang sudah pernah melihat wajah Iblis Bongkok sebelumnya, namun setelah kematian wanita yang kemudian diketahuinya sebagai istri Iblis Bongkok, Uban melihat garis-garis wajah dari pria ini semakin bertambah banyak. Dan yang paling mencolok adalah rambut gondrong sang pria yang sebelumnya nampak hitam legam kini nampak memutih seluruhnya seperti rambutnya sendiri! Karena duka yang begitu dalam, rambut Iblis Bongkok Bulan dan Matahari alias Pendekar 212 Wiro Sableng memutih hanya dalam sekejapan mata!
"Bisakah kau membantuku memakaikan topeng kayu itu wahai bocah baik?" ucap sang pendekar sembari menatap Uban dengan pandangan sayu.
"Bi... bisa Kakak Pendekar..." ucap Uban sembari mendekat ke arah Pendekar 212.
Uban kemudian perlahan menurunkan tubuh bayi Intan Suci yang sebelumnya dipondongnya ke sisi sebelah jasad Ratu Duyung. Uban atau Jabrik Sakti Wanara kemudian mengambil topeng ludruk kayu cendana yang tergeletak tidak jauh dari tempat mereka berada dan kemudian membantu mengenakannya di wajah Pendekar 212. Setelah topeng kayu tersebut terpasang, Uban pun kembali ke hadapan Iblis Bongkok Bulan dan Matahari dan kemudian duduk bersimpuh dengan wajah terpekur menghadap lantai.
"Apakah kau masih menyimpan Kitab Seribu Bintang yang dititipkan oleh kakek Raja Penidur?" tanya Iblis Bongkok.
Jabrik Sakti nampak mengangguk dan menunjuk ke arah buntalan kain lurik berisi Kitab Seribu Bintang yang tersampir di punggungnya yang telanjang. Iblis Bongkok nampak menganggukkan kepalanya.
"Nampaknya aku harus kembali menyusahkanmu kali ini, anak baik..." ucap Iblis Bongkok yang langsung dibalas oleh Uban.
"Saya terlalu banyak mendapatkan budi pertolongan dari Kakak Pendekar. Silakan Kakak Pendekar berkata dan meminta, biar kemudian saya akan memberikan daya dan upaya..."
Tercekat sang pendekar mendengar kata-kata yang keluar dari bibir polos sang anak remaja. "Benar-benar anak yang luar biasa. Dari runtut caranya berbicara aku yakin anak ini bukan dari keturunan orang sembarangan," batin sang pendekar.
"Saat ini aku dalam keadaan lemah tidak berdaya. Di luar sana masih ada orang-orang dari Kerajaan Perut Bumi yang menginginkan anak malang ini... Aku ingin kau membawa anak ini ke tempat yang lebih aman..." ucap Iblis Bongkok. "Mendekatlah kemari anak baik, aku akan membisikkan tempat di mana kau harus membawa anak terkasihku ini," lanjut sang pendekar.
Uban pun perlahan bergerak mendekat ke arah Iblis Bongkok. Iblis Bongkok Bulan dan Matahari kemudian membisikkan satu kata ke telinga Uban dan setelah itu dirinya berkata, "Sesampainya di sana, kau akan mendapati sebuah makam yang dihiasi tujuh buah payung beraneka warna. Tunggulah di situ namun jangan menunggu lebih dari dua purnama! Akan ada seseorang yang akan mendatangimu dan kau bisa menyerahkan anak terkasihku ini kepadanya."
Jabrik Sakti nampak menganggukkan kepala mendengar apa yang disampaikan oleh Iblis Bongkok. Bocah yang cerdas ini kemudian terlihat mengendurkan kain jarik yang terselempang di dadanya, di mana bagian belakang kain yang berada di belakang tepat di punggungnya tersembunyi Kitab Seribu Bintang. Kain di bagian depan yang berupa simpul dengan cekatan dibuatnya menjadi sebuah gendongan yang cukup untuk menggendong bayi mungil Intan Suci Angin Timur! Melihat kecakapan anak tersebut kembali membuat Wiro menjadi semakin kagum.
Pada saat itu, tiba-tiba satu suara auman harimau terdengar membahana di tempat itu, disusul munculnya satu sosok harimau berwarna putih berjalan perlahan menuju ke arah Iblis Bongkok.
"Kau datang di saat yang tepat sahabatku, Datuk Rao Bamato Ijo! Terima kasih kau sudi datang memenuhi panggilanku ini..." ucap Iblis Bongkok yang disambut suara gerengan perlahan sang raja rimba.
Mata Uban terlihat terpana melihat kedatangan harimau gaib Datuk Rao Bamato Ijo. Dia memang pernah bertemu muka dengan harimau peliharaan kakek gurunya, Datuk Perpatih Alam Sati, yang dipanggil dengan sebutan Datuk Balang Rancak. Tubuh harimau peliharaan sang kakek guru memanglah besar, tapi jika dibandingkan dengan ukuran Datuk Rao Bamato Ijo, jelas masih kalah jauh!
Nampak Iblis Bongkok dan Datuk Rao Bamato Ijo saling menempelkan dahi seolah saling berkomunikasi. Suara erangan lirih dari sang harimau terdengar pilu seolah mengkhawatirkan keadaan sang pria yang di punggungnya terdapat punuk daging ini.
"Aku tidak apa-apa Datuk Rao... Percayalah... yang saat ini aku khawatirkan adalah keselamatan dua bocah ini... Ini adalah permintaanku yang terakhir padamu wahai sahabatku Datuk Rao... Sudikah kiranya kau menjaga keduanya sampai ke tempat tujuan seperti yang telah disampaikan kepadamu?" Sang harimau nampak mengangguk dan menggereng lirih.
Iblis Bongkok kemudian memandang ke arah Jabrik Sakti. "Uban bocah baik, mendekatlah dan naiklah ke bahu sahabatku ini... Dia akan menjagamu dan bayi kecilku sampai ke tujuanmu..." ucap Wiro.
"Per... permisi Uwak... Maaf jika aku menyakitimu... Jangan marah padaku..." ucap Uban dengan suara jerih kala sang bocah remaja memegang dan membelai tubuh Datuk Rao Bamato Ijo.
Sang harimau nampak mengaum pelan mengagetkan Uban, dan kemudian secara aneh tubuhnya seperti tersedot naik dan kemudian jatuh menempel dalam posisi mengangkangi bahu sang harimau! Benar-benar tidak habis pikir, batin sang bocah.
"Kalian harus bergegas... Waktunya sudah tidak banyak lagi..." ucap Wiro sambil menatap dengan pandangan berat.
Demikian juga yang dirasakan oleh Jabrik Sakti. "Jaga dirimu baik-baik Kakak Pendekar... Aku akan pergi namun aku berjanji aku pasti akan kembali untuk menemuimu setelah amanatmu ini aku laksanakan," ucap Jabrik Sakti yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Wiro. Harimau sakti yang ditunggangi oleh bocah remaja ini perlahan beranjak pergi sambil tidak lupa mengeluarkan auman perpisahan dan mulai melesat cepat menembus kegelapan gua, meninggalkan Iblis Bongkok yang akhirnya hanya bisa diam terpaku sedih sambil menatap jenazah Ratu Duyung.
Tidak sampai sepenanakan nasi setelah Datuk Rao Bamato Ijo pergi membawa Jabrik Sakti Wanara dan Intan Suci Angin Timur dari Goa Cadas Kencana, tiga bayangan nampak melesat datang dari ujung goa yang lain dan langsung menghampiri ke arah Iblis Bongkok dan jenazah Ratu Duyung berada. Suara kejut tercekat nampak terdengar dari ketiga orang yang baru datang.
"Bongkok hina keparat! Apa yang kau perbuat pada sahabat kami?" bentak seorang wanita berambut pirang yang tidak lain tidak bukan adalah Bidadari Angin Timur!
Bidadari Angin Timur bersama Suci dan Purnama memang tersesat di dalam Goa Cadas Kencana setelah lepas dari jerat gaib pengunci roh milik Hantu Malam Penjerat Jiwa. Ketiganya berlarian dengan secara sembarang manakala ketiganya bertemu dengan Iblis Bongkok yang nampak bersimpuh di hadapan sosok yang mereka kenali sebagai sosok Ratu Duyung ini. Purnama yang melihat gelagat tidak baik langsung mendekat ke arah sosok Ratu Duyung yang tergeletak di lantai gua dan mendadak wajah jelitanya memucat putih seputih kertas!
"Ya Tuhan! Ratu Duyung sudah tidak bernyawa! Dan... dan bayi dalam kandungannya telah menghilang!" Suara menggeru terdengar dari mulut Bidadari Angin Timur dan Suci secara bersamaan.
Kedua wanita sakti ini secara serempak melepaskan pukulan sakti masing-masing ke arah Iblis Bongkok yang disangka mereka telah membunuh Ratu Duyung!
"Jahanam keparat! Kembalikan nyawa Ratu Duyung!" teriak Suci dengan air mata berlinang.
Bagaimanapun gadis dari alam gaib ini memandang Ratu Duyung sebagai salah satu pesaing dalam memperebutkan hati Pendekar 212, sang gadis yang dikenal dengan julukan Dewi Bunga Mayat ini masih merasa berhutang budi kepada Ratu Duyung atas kebaikan hatinya. Sementara itu tanpa disangka-sangka oleh Bidadari Angin Timur dan Dewi Bunga Mayat, Iblis Bongkok yang mereka anggap sudah mencelakai Ratu Duyung ternyata tidak menghindar sedikit pun dan menelan mentah-mentah pukulan sakti yang dilepaskan mereka berdua!
Alhasil suara berdentum keras terdengar dibarengi melesatnya tubuh bongkok sang pendekar yang nampak keras membentur dinding goa!
"Ahh..." Tanpa sadar keduanya berseru lirih karena tak menyangka kalau sosok yang mereka hantam dengan pukulan sakti tersebut ternyata tidak membalas atau menghindar sedikit pun dari datangnya kedua pukulan mematikan yang dilepaskan oleh mereka berdua. Tanpa terasa keduanya langsung melayang mendekati tempat di mana Iblis Bongkok Bulan Matahari terpental dan membentur dinding goa.
Keduanya nampak terdiam manakala sama-sama melihat keadaan mengenaskan Iblis Bongkok. Tubuh sang pria tampak terselip dalam geroakan batu goa yang terbentuk akibat benturan keras dari tubuh yang menghantam dinding goa dengan dahsyatnya. Darah hitam membiru terlihat menetes dari sela-sela mulut topeng ludruk kayu cendana yang sedang tertunduk, sementara kain baju dan celana yang dipakai Iblis Bongkok nampak sebagian hancur rusak dan robek di sana-sini akibat kedahsyatan kedua pukulan sakti yang membentur tubuh Iblis Bongkok Bulan dan Matahari alias Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng!
Wiro kemudian nampak kembali memejamkan kedua matanya sesaat manakala kejadian lama tersebut terbayang kembali dalam ingatannya. Setitik air nampak keluar dari sudut mata sang pendekar, lalu tiba-tiba satu bayangan peristiwa kembali terlihat di balik pelupuk mata sang pendekar. Saat itu dalam keadaan lemah tak bertenaga, dirinya yang tidak bisa bergerak karena dalam pengaruh kuncian Tiga Belas Orang Aneh Menara Bangkai terpaksa harus melihat dengan mata kepalanya sendiri suatu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup.
Kala itu dengan mata yang terpentang lebar, Pendekar 212 harus melihat peristiwa manakala Sukat Tandika atau Tua Gila nampak bertarung beradu punggung dengan seorang wanita paruh baya berwajah cantik. Wanita cantik ini ternyata adalah Sinto Gendeng, gurunya sendiri yang telah melepas topeng kulit tipis yang selama ini dipakainya. Keduanya nampak bersatu padu melawan keroyokan Kanjeng Ratu Penguasa Perut Bumi, Datuk Akhirat Seribu Raga Seribu Sukma, Sesepuh Segoro Wetan, Pendekar Seribu Bayangan, Iblis Hitam Perut Bumi, dan Hantu Malam Penjerat Jiwa.
Kedua dedengkot dunia persilatan murid Kiai Gede Tapa Pamungkas ini, semenjak dibuka kuncian kesaktian masing-masing oleh sang Kiai, kini nampak bertarung garang bagaikan sepasang harimau tumbuh sayap! Kerubutan serangan para tokoh Kerajaan Perut Bumi yang sebagian besar dilakukan dengan cara licik dan curang pun dibalas dengan sambutan serangan Pedang Sinar Inti Roh dan pukulan Tapak Mentari Jingga yang dilepaskan oleh Sinto Gendeng dan Tua Gila secara tidak berkeputusan! Para tokoh Kerajaan Perut Bumi ini sontak berusaha melarikan diri dengan saling berebut melesat menjauhi keduanya yang nampak laksana banteng ketaton menyerang para tokoh sesat yang mengerubuti keduanya.
"Ayo kemari mendekat setan-setan Perut Bumi keparat! Jangan cuma berani mengeroyok seperti tikus-tikus kapiran! Maju semua kowe...!!!" teriak Sinto Gendeng dengan penuh emosi.
Baru saja sang nenek yang ternyata adalah seorang wanita cantik paruh baya ini hendak melesat mengejar para tokoh Kerajaan Perut Bumi yang lari memencar ini, tiba-tiba dari dalam tanah di bawah kakinya menyeruak sepasang tangan yang sedemikian besar menangkap dan mencengkram tubuh Tua Gila dan Sinto Gendeng dengan kecepatan luar biasa dan tanpa disangka-sangka sebelumnya!
"Sinto, cepat lariii...!!!" teriak Tua Gila, namun suaranya terasa tercekat di leher manakala tekanan maha besar menghimpit tubuhnya dan dengan cepat meremukkan tulang-tulang di sekujur tubuhnya.
Sungguh amat disayangkan, teriakan pendekar tua yang masa mudanya dikelilingi oleh wanita cantik ini hanyalah sebuah teriakan sia-sia belaka. Saking cepatnya pergerakan kedua tangan raksasa tersebut, Tua Gila sampai tidak menyadari kalau nyatanya Sinto Gendeng pun mengalami nasib yang serupa dengan dirinya, sama-sama tertangkap oleh tangan raksasa.
"Sukaat..." balas lemah Sinto Gendeng sebelum akhirnya terdiam untuk selama-lamanya, menyusul kepergian saudara seperguruannya di masa silam itu. Nasib tragis yang sama juga akhirnya dialami oleh Sinto Gendeng. Badannya remuk dan hancur tulang dan sekujur tubuhnya oleh remasan tangan raksasa Dewa Tanah sang pemimpin utama Kerajaan Perut Bumi yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah!
Bab 3
Bayangan peristiwa kematian kedua orang guru yang begitu dihormati oleh Wiro tersebut perlahan mulai memudar dari pandangan ingatan batin Pendekar 212, begitu juga dengan kesadarannya. Tubuhnya yang mendingin mulai bergerak pelan menuju ke arah kebekuan dan kekosongan alam semesta. Namun, tanpa pernah disangka dan tanpa pernah diduga sebelumnya, tiba-tiba di antara kesunyian semesta, entah datang dari mana, sekonyong-konyong terlihat bayangan berbentuk tujuh payung kertas aneka warna bergerak dan kemudian menumpuk menjadi satu di bawah punggung Pendekar 212!
Sebuah bunga kenanga juga nampak muncul secara tiba-tiba di dada sang pendekar dan mulai mengeluarkan pendaran cahaya yang bersinar redup. Tidak sampai di situ, beberapa saat kemudian entah dari mana pula datangnya, terlihat sebuah cermin kecil yang retak nampak bergerak mengitari tubuh Pendekar 212 dan silih berganti memantulkan cahaya matahari dan rembulan ke tubuhnya. Tubuh Pendekar 212 yang sebelumnya bergerak menjauh dari pusat tata surya tiba-tiba terhenti, kemudian beranjak perlahan kembali mendekat ke arah sumber cahaya matahari dan rembulan. Satu kekuatan luar biasa nampaknya masih belum rela tubuh Pendekar 212 berakhir hilang dalam kegelapan alam semesta!
Kembali ke pertarungan akhir di bumi Mataram, serangan Ratu Laut Utara Sri Ratu Ayu Lestari yang dibantu oleh serangan Nyi Roro Kidul sontak hilang tak berbekas manakala tiba-tiba sang resi melompat tinggi dan berputar kencang laksana kitiran gasing! Dengan kecepatan luar biasa, keduanya kontan terlempar dari kereta kencana masing-masing yang porak-poranda.
Celaka! Kita tidak akan mempunyai kesempatan mengalahkannya jika makhluk sialan ini tidak menyentuh bumi!+//3//f/9 seru Mahesa Edan yang masih berpegangan pada papan nisan miliknya, terombang-ambing dalam pusaran air yang terbentuk oleh putaran tubuh sang Resi Raksasa.
+//3//f/9-Kekuatan makhluk ini sangat luar biasa, Yang Mulia Raja. Kita harus mencari cara untuk menghentikannya... ucap Mahesa Kelud kepada sang Raja Mataram, Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan, yang berada di dekatnya.
Sang Paduka Raja mengernyitkan kening. Kini kita hanya bisa bergantung pada dua sahabat kita yang berada di balik celana makhluk ini, wahai sahabat Mahesa Kelud, ucap sang raja sambil melindungi tubuh Roro Jonggrang yang berada di balik punggungnya.
Sementara itu, Setan Ngompol yang berada di balik celana sang resi nampak mengerjapkan kedua matanya, menahan rasa pusing akibat perputaran tubuh sang resi jelmaan keenam dewa. Aku sudah tidak kuat lagi, Ning! Kepalaku rasanya mau pecah! Bukan saja karena perputarannya, namun juga karena aroma selangkangan makhluk sialan ini! teriak sang kakek.
Aroma selangkangan sendiri kau bisa tahan, tapi aroma selangkangan orang lain kau sampai hendak semaput! Dasar kakek keblinger! Sudah, bertahanlah sebentar lagi, Kek! Aku juga sudah tidak tahan sebenarnya, sama seperti dirimu. Tapi saat ini yang terpenting adalah aku harus mencari posisi urat yang tepat! sambung Naga Kuning sambil meraba-raba kantung menyan raksasa tempat dirinya sedang merayap di sebelah kiri.
Ketemu, Kek! Aku sudah dapat titik pusat sasarannya! Bagaimana dengan dirimu? teriak Naga Kuning.
Aku juga sebenarnya sudah dapat titik tujuannya, Ning! Sudah kutandai pakai ludah! Tapi kepalaku masih pusing! seru sang kakek sambil satu tangannya memegang rambut kemaluan sang resi erat-erat.
Sekaranglah saatnya, Kek! teriak Naga Kuning sambil mulai bersiap-siap menusuk kantung menyan sebelah kiri yang bergayut tak karuan.
Satu...! teriak Naga Kuning, kemudian dibalas Setan Ngompol, Dua...!
Dan akhirnya, Tiga...! teriak Setan Ngompol dan Naga Kuning berbarengan, sembari menusukkan pasak batu pemasung dewa yang sebelumnya terikat di pundak masing-masing. Paku berbentuk pasak batu sepanjang satu tombak terbuat dari bahan yang sama yang digunakan para dewa pemberontak kala memasung naga dewa Kiai Naga Waskita dan naga dewa Kiai Naga Wisesa langsung melesat masuk ke dalam bola daging berurat berbulu besar milik sang resi dewa raksasa!
Mata Resi Raksasa tiba-tiba membeliak besar! Pusaran badannya terhenti, membuat tubuhnya akhirnya kembali turun menjejakkan kaki ke bumi, dibarengi suara raungan kesakitan yang menggelegar!
Mereka berhasil! Cepat, sahabat Mahesa berdua! Sekarang giliran kalian! teriak sang Maharaja Mataram ke arah kedua pemuda gondrong berbaju putih yang terlihat masih mengapung di permukaan air laut yang membanjir. Mahesa Kelud dan Mahesa Edan sontak menyelam ke dalam pusaran air dan berenang mendekat ke arah sepasang telapak kaki sang Resi Raksasa. Lalu secara berbarengan, keduanya mengambil pasak batu pemasung dewa yang terikat pada punggung masing-masing dan serempak menusukkan paku tersebut ke kedua punggung telapak kaki sang dewa raksasa.
Suara kesakitan yang teramat dahsyat kembali keluar dari mulut Resi Raksasa!
Melihat hal ini, Dewa Tuak yang berada di langit dan memimpin barisan Rantai Sambung Hati Dewa dan Manusia kemudian berseru keras ke arah para dewa dan tokoh persilatan yang saling tersambung berpegangan tangan:
Mereka berhasil memantek resi gabungan dewa sesat itu! Sekarang giliran kita, wahai para dewa dan manusia!
Sang kakek sakti, guru terkasih Dewi Selendang Ungu, kemudian menyalurkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya ke arah titik di antara alis, lalu membaginya ke kedua telapak tangan yang saling berpegangan dengan para dewa dan tokoh silat lainnya. Hal ini juga dilakukan oleh Ajengan Manggala Wanengpati, Karaeng Uleng Tepu, Si Penolong Budiman, Hantu Raja Obat, Lakasipo, Tubagus Kesumaputera, Dewa Langit Harimau Agung, Dewi Langit Bunga Matahari, dan tokoh-tokoh dari kalangan dewa maupun manusia yang tergabung dalam jalinan Rantai Sambung Jiwa Hati Dewa dan Manusia.
Sinar berwarna keemasan yang timbul dari pertengahan kening dan jalinan genggaman tangan ini mula-mula berputar pelan, kemudian semakin cepat, hingga membentuk cahaya berwujud aksara langit yang tertata rapi. Cahaya itu saling terjalin laksana ribuan tambang emas, lalu melesat turun dan membelit sekujur tubuh Resi Dewa Raksasa.
Saatnya telah tiba, Yang Mulia... Saatnya bagi dirimu dan para sahabat lainnya menghancurkan angkara murka... ujar Dewi Roro Jonggrang dengan lirih. Tubuh sang dewi mulai melemah, dan sebagian tubuhnya perlahan namun pasti kembali berubah menjadi batu.
Sungguh amat disayangkan, pertarungan panjang dan melelahkan terutama saat sang dewi bertarung melawan Bandung Bondowoso telah menghabiskan banyak energi hidupnya.
Raja Mataram, Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan, memandang perubahan tersebut dengan sedih. Aku akan kembali, Dewiku... Aku berjanji akan kembali... ujar sang raja lirih, lalu perlahan melepaskan genggaman tangannya dari genggaman sang dewi. Sang raja kemudian bergabung dengan Nyi Roro Kidul dan Ratu Laut Utara Ayu Lestari, merangsek menggempur Resi Raksasa yang tubuhnya terpasung oleh pasak batu pemasung dewa dan ikatan Rantai Sambung Jiwa Hati Dewa dan Manusia.
Keris Kanjeng Sepuh Pelangi dan Keris Widuri Bulan diacungkan terpusat ke depan, dan sang raja melesat dalam gerakan memutar laksana bor raksasa ke arah jantung sang Resi Raksasa. Nyi Roro Kidul mengarahkan kedua telapak tangannya ke belakang cermin sakti dasar samudra, dan dari cermin sakti tersebut keluar sinar panjang berwarna putih kebiruan menghantam dada sebelah kanan.
Jika Raja Mataram dan Ratu Penguasa Laut Selatan menyerang dari arah depan, maka Sri Ratu Ayu Lestari menggunakan kedua telapak tangannya untuk mengerahkan ilmu Naga Samudra Merobek Cakrawala ke arah punggung sang Resi Raksasa. Sinar berbentuk gelombang berwarna hijau menerjang ganas langsung ke arah punggung sang resi!
Serangan serempak dari penguasa daratan dan lautan Tanah Jawa ini memang luar biasa, dan mungkin akan berdampak serius jika dijatuhkan ke arah salah satu dewa pemberontak. Namun sayangnya, resi gabungan dari keenam dewa ini sungguhlah tangguh luar biasa. Hampir sepeminuman teh berlangsung, namun tubuh sang resi yang dihantam pukulan sakti dari tiga jurusan itu tidak mengalami kerusakan berarti. Sang resi yang digempur oleh serangan raja dan ratu penguasa bumi serta laut Mataram hanya menggetarkan tubuhnya dan menggeliat keras, membuat ikatan rantai aksara emas hati dewa dan manusia bergemerincing keras.
Tenaga kita bertiga belum cukup kuat untuk menghancurkan tubuhnya... keluh Raja Mataram yang masih berusaha menembus pertahanan dada sang resi sebelah kiri.
Teruslah mencoba! Kita serahkan hasilnya ke tangan Yang Maha Kuasa... balas Nyi Roro Kidul seraya menambahkan tenaga dalamnya ke arah cermin sakti dasar samudra.
Mendadak sang resi menutup matanya, lalu tubuhnya bergetar sesaat sebelum tiba-tiba mengeluarkan hentakan keras! Dari hentakan tersebut timbullah getaran tenaga tak kasat mata yang menyebar ke segala arah, laksana gelombang yang timbul pada batu yang dilempar ke genangan air, langsung menghantam Raja Mataram, Nyi Roro Kidul, dan Ratu Laut Utara!
Nyi Roro Kidul dan Sri Ratu Ayu Lestari menjerit kecil dan terlempar masuk ke dalam air, sementara Raja Mataram yang berada paling dekat dengan tubuh sang resi dewa terpental jauh akibat terhantam tenaga hentakan yang keluar dari dalam tubuh Resi Raksasa.
Apakah semuanya akan berakhir seperti ini? keluh sang raja sambil memegang dadanya yang berdenyut keras akibat hempasan gelombang tenaga mahadahsyat. Disekanya bibirnya yang mengeluarkan darah, lalu dipandangnya Dewi Roro Jonggrang yang memapahnya bangun dengan pandangan sedih.
Di sisi lain, Resi Dewa Raksasa yang berhasil menghempaskan ketiga penyerangnya berusaha melepaskan diri dari rantai-rantai yang mengikatnya, sambil menggapai ke arah bawah selangkangannya yang terasa sakit luar biasa. Naga Kuning dan Setan Ngompol yang masih bergelantungan di rambut kelamin sang resi tentu saja terguncang, terombang-ambing tak karuan!
Saatnya kita pergi, Kek, sebelum kepala kita jadi korban garukan galer! teriak Naga Kuning sambil melepaskan pegangannya pada bulu kemaluan sang resi dan meluncur turun.
Setan Ngompol sebenarnya ingin menanyakan maksud sang bocah, namun akibat terguncang oleh goyangan pinggul sang Resi Raksasa, sang kakek bau pesing itu pun akhirnya terlepas pegangannya dan turut meluncur turun di kaki celana sang resi.
Tobaaat, Biyuuung! teriak sang kakek kencang.
Sementara itu, walaupun terkunci di bagian kaki dan daerah kemaluannya, bagian atas tubuh sang resi yang terikat rantai aksara emas sambung jiwa hati dewa dan manusia masih memiliki tenaga. Kedua tangan sang resi bergerak menggapai ke sana kemari, berusaha melepaskan belitan rantai tersebut satu per satu.
Raja Mataram bersama kedua ratu, para dewa, dan tokoh dunia persilatan yang masih tersisa mulai putus asa melihat hal ini. Habislah kita... Kerajaan ini akhirnya harus berakhir di tanganku... keluh sang raja.
Namun di saat keputusasaan melanda, tiba-tiba semua orang merasakan datangnya hawa panas luar biasa, sontak memalingkan wajah ke arah langit!
Di sana, tidak jauh dari barisan Rantai Sambung Jiwa Hati Dewa dan Manusia, nampak tiga bintang berekor berwarna kebiruan melesat turun saling berkejaran ke arah bumi, langsung menuju Resi Raksasa!
Dia kembali! Pendekar 212 kembali teriak Raja Mataram kegirangan.
Orang sableng itu memang punya banyak kejutan... kekeh Mahesa Edan yang terapung sambil berpegangan pada papan kayu nisan hitam miliknya.
Memang setelah berhasil menancapkan pasak batu pemasung dewa, kedua pendekar tersebut langsung berenang ke permukaan untuk mengambil napas. Dan benar seperti yang dikatakan Raja Mataram, ketiga bintang yang melesat turun tersebut adalah Wiro dan kedua bayangannya dari ilmu Tiga Bayangan Pelindung Raga yang diajarkan oleh nenek sakti Rauh Kalidathi.
Menggunakan ilmu Bintang Jatuh Menghujam Latinggimeru yang diajarkan oleh Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Wujud, Wiro turun dari angkasa sambil memecah diri menjadi tiga wujud. Masing-masing wujud melambari sepasang tangan dengan ilmu Tapak Mentari Tengah Malam, Tapak Rembulan Tengah Hari, dan Tapak Surya Gugur Gerhana.
Bab 4
Intan Suci Angin Timur memegang surai Puti Sembrani erat-erat. Perjalanan kembali ke permukaan dari inti bumi memang memakan waktu yang tidak sebentar. Setelah sebelumnya berhasil mengenyahkan Kabut Dewa yang berpusat di inti bumi dan melepaskan Pasak Batu Pemasung Dewa dari tengkuk sepasang naga pemutar poros bumi, yakni Kiai Naga Wisesa dan Kiai Naga Waskita, akhirnya Intan Suci Angin Timur pun berpamitan dengan Kiai Jiwo Langgeng, makhluk abadi penunggu pohon Kalpataru atau pohon kehidupan yang berada di dasar inti perut bumi.
Hampir sepuluh kali penanakan nasi, barulah Intan Suci Angin Timur mulai melihat cahaya di ujung terowongan batu tempat masuk ke dalam inti bumi. Setelah melewati mulut terowongan batu, udara segar pun langsung masuk ke dalam hidung sang bocah cilik. Putri pasangan Pendekar 212 dan Ratu Duyung ini pun kemudian menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya.
"Perjalanan kita masih panjang, Puti... Dan aku jujur tidak tahu harus memulainya dari mana..." ucap sang bocah sambil membelai surai sang kuda bersayap yang ditungganginya.
Tiba-tiba sang bocah menolehkan kepalanya saat sayup-sayup terdengar ada suara seseorang yang memasuki telinga mungilnya.
"Mungkin kau bisa memulainya dari sini dulu, cucuku Cah Ayu," satu suara dibarengi suara guncangan kaleng rombeng terdengar memasuki telinga Intan Suci Angin Timur.
Dari atas tunggangannya, sang bocah cilik nampak mengedarkan pandangannya ke arah bawah. Setelah mencari beberapa saat, dilihatnya sebuah pedataran luas yang gersang dan ada sebuah pohon yang nampak berdiri kokoh sendirian di tengah padang tandus. Nampak di bawah naungan pokoknya ada seorang kakek yang duduk sambil terus mengguncang-guncangkan kaleng rombengnya yang berisi batu!
"Kakek Segala Tahu!" seru sang bocah yang kemudian mengarahkan kuda sembrani tunggangannya ke arah di mana sang kakek berada.
Begitu turun dari tunggangannya, bocah kecil tersebut langsung berlari dan kemudian memeluk sang kakek yang nampak semakin girang menggoyang-goyangkan kaleng rombengnya.
"Sudahkah kau bebaskan kedua naga sepuh itu, Cah Ayu?" ucap sang kakek bermata putih sambil mengelus rambut pirang Intan Suci.
Sang gadis pun mengangguk, namun kemudian ganti terisak. "Tapi Uwak... Aku tidak berhasil menyelamatkan Uwak Kakek..." isak sang gadis dalam pelukan Kakek Segala Tahu.
Sang kakek tampak tersenyum sebelum kembali berujar, "Hidup dan mati, jodoh pertemuan dan perpisahan... adalah rahasia yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Uwakmu itu, walaupun hanyalah seekor harimau dalam bentuk roh, namun dirinya sudah menunjukkan baktinya dengan menjaga dan mengurusmu sampai sebesar ini. Jadi, relakanlah kepergian uwakmu itu, Cah Ayu."
Intan Suci nampak mengusap air matanya dengan kedua tangan lalu mengangguk sedih. "Kata-kata Kakek sama persis seperti apa yang dikatakan Eyang Jiwo Langgeng... Aku bukannya bermaksud tidak menerima kepergian Uwak Kakek, hanya saja aku sekarang bingung harus melakukan apa setelah ini..." ucap sang bocah kecil sambil sesekali terlihat sesenggukan.
Kakek Segala Tahu kembali membunyikan kaleng rombengnya sebelum kembali berujar. "Rupanya masih hidup juga makhluk bijak penghuni pohon Kalpataru tersebut... Adalah suatu keberuntungan kau masih bisa berjumpa dengan dirinya."
Sang kakek kemudian kembali berujar, "Angkara murka masih merajalela... tenagamu masih dibutuhkan cucuku, Cah Ayu. Kau harus kembali kepada ayahmu dan membantunya melawan kezaliman yang meneror negeri ini."
Nampak awan murung seketika menggelayut di wajah gadis cilik ini. "Aku tidak punya ayah! Orang yang Kakek sebut sebagai ayahku itu sudah sedemikian jahatnya meninggalkan aku di dunia ini! Satu-satunya yang sayang padaku hanyalah Uwak dan Kakang Wanara!" sengit bocah kecil ini.
Kakek Segala Tahu nampak mengelus janggutnya dan menengadah ke atas. "Langit oh langit... Sudah terlalu banyak penderitaan yang kulihat dengan mata batinku di pelataran bumi ini... Sungguh dari semuanya itu, kiranya tidak ada yang lebih menanggung derita daripada ayah gadis kecil ini," ucap Kakek Segala Tahu sambil kembali mengguncangkan kaleng bututnya keras-keras.
"Ma... maksud Kakek apa? Bu... bukankah ayahku adalah orang jahat yang dibuang oleh para dewa atas langit dan menjadi orang jahat yang membunuh para tokoh persilatan golongan putih?" ucap Intan Suci keheranan dan memandang terus ke arah Kakek Segala Tahu.
Setelah puas memainkan kaleng rombengnya, Kakek Segala Tahu pun kemudian berucap pelan ke arah Intan Suci Angin Timur. Sang kakek kemudian menceritakan bagaimana nasib sang ayah, Pendekar 212 Wiro Sableng, yang terpenjara dalam wujud patung batu selama delapan ratus tahun. Diceritakan pula bagaimana dalam wujud roh selama berada dalam sekapan patung batu, Wiro Sableng dan Luhcinta (atau Dewi Langit Bunga Tanjung) harus berhadapan dengan pengadilan Tahta Dewa Negeri Atas Langit karena dituduh telah mencuri Kitab Jagat Pusaka Dewa dan mencuri kedua ilmu sakti yang berada di dalamnya dari Kuil Candrasoma di bulan dan Kuil Surya Mentari di matahari.
Akibat tuduhan tersebut, sang pendekar menjalani hukuman dera sampai menjadi bongkok. Sementara Luhcinta sendiri menjalani pengasingan di penjara Istana Langit sebelum akhirnya mengorbankan diri untuk mendapatkan Bunga Tanjung Kasih Dewa yang berada di keningnya, sementara tulang punggungnya sendiri dijadikan Busur Gendewa Cinta Kasih yang dipersiapkan oleh para dewa sebagai senjata pamungkas dalam menghadapi para dewa yang memberontak.
Sang kakek kemudian juga menceritakan bagaimana Pendekar 212 dalam keadaan bongkok dan memakai topeng ludruk kayu cendana kembali mendapatkan fitnah kala menghadiri rapat dunia persilatan yang dilakukan di Kepulauan Riung. Sang pendekar dituduh membunuh secara membokong Raja Penidur dan dianggap sebagai tokoh antek-antek Kerajaan Perut Bumi, sehingga diburu oleh seluruh tokoh dunia persilatan baik dari golongan putih maupun dari Kerajaan Perut Bumi.
"Kalau masalah tokoh dunia persilatan yang dikatakan telah dibunuh oleh Ayah, sejujurnya aku juga tidak tahu, Kek, dan aku pun masih sangsi. Namun Eyang Raja Penidur bukan meninggal karena dibunuh oleh siapa-siapa! Eyang meninggal dalam tidurnya setelah menyerahkan kembali amanat Kitab Seribu Bintang yang telah terisi Bunga Tanjung Kasih Dewa kepada Kakang Wanara, Kek! Aku dan Kakang Wanara-lah yang menguburkan jasad beliau, jadi bukan Ayah pembunuhnya, Kek!" seru sang gadis cilik memotong cerita Kakek Segala Tahu.
Kakek Segala Tahu kembali menggoyangkan kaleng rombengnya beberapa saat sebelum kemudian lanjut berbicara. "Kau benar sekali, Cah Ayu... Itu sebenarnya adalah jebakan dan fitnah para tokoh Kerajaan Perut Bumi yang menyusup ke pertemuan akbar tersebut. Ayahmu itu tidak salah apa-apa... Namun dampaknya, dia jadi tidak dipercayai dan malah dikejar-kejar oleh semua pihak..." ucap sang kakek.
Kakek Segala Tahu kemudian lanjut berujar, "Namun dari semuanya itu, kehilangan ibumu dan dirimu, serta harus melihat kedua gurunya dibantai oleh para tokoh Kerajaan Perut Bumi, mungkin adalah hal terberat yang harus ditanggung oleh ayahmu itu."
Intan Suci yang sebelumnya menundukkan kepalanya kemudian mengangkat wajahnya yang dipenuhi oleh air mata. "Maafkan aku, Kek... Aku benar-benar tidak tahu dan bersalah karena menganggap Ayah sebagai orang yang jahat... Aku tidak tahu jika nasib Ayah ternyata setragis itu, Kek..." ucap sang bocah yang kemudian kembali menangis dan memeluk Kakek Segala Tahu.
"Semua orang mempunyai takdirnya masing-masing, Cah Ayu... Begitu juga dengan ayahmu. Walaupun memang begitu berat yang harus ditanggungnya, namun percayalah, sudah tersedia ganjaran yang setimpal dan berkah tersembunyi buat ayahmu itu."
"Jadi aku harus bagaimana, Kek? Aku merasa tidak berani bertemu dengan Ayah..."
"Bangunlah cucuku, Cah Ayu. Kau harus beranjak pergi menemui ayahmu. Dia membutuhkanmu saat ini."
"Tapi aku..."
Sang kakek kemudian meletakkan kaleng rombengnya dan memegang kedua pundak sang bocah. "Dengarlah cucuku, Cah Ayu... Bukan cuma ayahmu saja yang membutuhkanmu saat ini, namun seluruh umat manusia. Pergilah menjemput takdirmu. Mereka menunggumu di Mataram saat ini. Bahkan kurasakan pula kakangmu itu juga kini sedang beranjak pergi menuju ke sana."
"Benarkah seperti itu, Kek? Di manakah arah yang harus kutuju?"
"Kau lihat langit di sebelah barat sana? Langit yang gelap kelam dan berpetir di kejauhan sana? Itulah tempat yang harus kau tuju."
"Baiklah kalau begitu, Kek. Aku akan pergi sekarang. Jaga diri Kakek baik-baik," ucap sang gadis cilik seraya mencium tangan sang kakek dan kemudian bergegas menaiki Puti Sembrani dan terbang menuju langit sebelah barat.
"Doaku selalu bersamamu, cucuku Cah Ayu..." ucap lirih sang kakek sebelum akhirnya kembali terlihat sibuk menggoyang kaleng bututnya yang berisi batu.
Bab 5
Wiro perlahan membuka kedua matanya. Cahaya silau namun hangat terasa menerpa wajahnya. Walaupun agak kabur di awal, namun akhirnya pandangannya menjadi lebih jelas. Dirinya kembali mendapati dirinya di satu pedataran rumput yang luas. Ia tidak sendiri; dirinya dikelilingi puluhan sosok bertubuh raksasa tinggi besar yang terdiri dari pria dan wanita berjubah putih.
Hal ini mengingatkan sang pendekar kala pertama kali mengunjungi Negeri Latanahsilam. Dirinya saat itu terpesat ke negeri itu dalam keadaan tubuh kecil, sementara para penduduknya bertubuh raksasa. Wiro kembali menatap para raksasa di hadapannya. Para pria dan wanitanya nampak tampan, cantik, namun berwibawa.
Satu kesamaan dari makhluk-makhluk yang mengelilinginya tersebut adalah sebagian terlihat memegang Pedang Naga Suci 212 dalam ukuran besar, dan sebagian lagi memegang kapak bermata dua berukuran besar yang sangat persis seperti yang dimilikinya: Kapak Maut Naga Geni 212!
"Wahai anak manusia yang terlahir bernama Wiro Saksana! Selamat datang kembali ke Lembah Jagat Semesta Dua Satu Dua!" ucap satu suara yang mengembalikan kesadaran Pendekar 212 sepenuhnya.
"Eyang Jagat Satria..." ucap sang pendekar seraya bergegas bangun dan berlutut di hadapan sosok terdepan dari barisan manusia raksasa yang berdiri mengelilinginya.
Perlu diketahui, ini merupakan kedatangan kedua Pendekar 212 di lembah yang dinamakan Jagat Semesta 212 ini. Jagat Semesta 212 adalah satu tempat di alam semesta yang bisa tersambung dengan kesadaran hakiki yang terdalam dari diri seseorang. Semesta ini juga merupakan dunia di mana para pemegang terdahulu Kapak Naga Geni 212 dan Pedang Naga Suci 212 dari berbagai semesta dan dimensi—yang sudah melepaskan ikatan samsara antara dunia dan akhirat—akhirnya berkumpul dalam keabadian.
Pendekar 212 memasuki alam semesta ini kali pertama adalah saat dirinya tidak sadarkan diri di Setu Lintang Kemukus atau Jembatan Bintang Berekor. Saat itu rohnya dan Luhcinta sedang melakukan perjalanan menuju matahari guna mendapatkan rahmat Chandrasoma dan berkah surya mentari yang menjadi syarat dalam kitab Jagat Pusaka Dewa.
"Ini kali kedua kau kembali terpesat ke tempat ini, wahai anak manusia... Apakah ini pertanda kau sudah memutuskan untuk menerima tawaran kami tempo hari?" ucap Eyang Jagat Satria.
"Aku... Aku jujur belum sempat memikirkannya, Eyang... Namun kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin bergabung bersama Eyang semua di tempat ini benar adalah pilihan terbaik," ucap Wiro dengan menundukkan kepalanya.
"Baguslah kalau berpikir begitu. Kami semua yang berada di sini pastilah menyambutmu dengan senang hati kalau memang seperti itu keputusanmu. Namun kalau boleh Eyang bertanya, apakah yang menjadi dasar dari keputusanmu itu, wahai anak manusia?" tanya sang Resi.
"Aku sudah terlalu lelah, Eyang... Entah mengapa hati ini mulai membeku dan kehilangan pegangan. Terlalu banyak penderitaan yang bertubi-tubi datang mendera. Sebelumnya aku pikir aku sanggup menanggung semua ini... Namun ternyata aku salah. Aku tidak punya kekuatan apa-apa. Bahkan untuk menolong dan menyelamatkan orang-orang yang berharga dan amat kusayang, aku sendiri tidak mampu! Aku benar-benar tidak berharga dan tidak memiliki lagi kekuatan untuk menghadapi dunia ini, Eyang," ucap pelan sang pendekar sambil tertunduk.
Terdengar suara helaan napas dari para manusia berwujud raksasa yang berada di tempat tersebut. Beberapa saat dalam kesunyian, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dengan lembut berkata, "Kami mengerti semua penderitaan yang kau alami, wahai anak manusia. Kami semua yang berada di sini pada dasarnya turut pula mengalami lingkaran takdir penuh derita seperti yang kau alami, karena memang itulah takdir yang harus ditanggung setiap pemegang amanat 212 di dunia ini."
Wiro mengangkat kepalanya dan melihat satu sosok wanita berwujud tinggi besar mengenakan jubah putih. Rambutnya nampak digelung ke atas dan dihiasi sebuah tusuk kundai dari bahan batu kemala. Wajah sang wanita yang nampak mulai berkeriput ini memancarkan keteduhan dan kedamaian. Matanya yang berbola mata biru menyiratkan jejak penderitaan dan pengalaman hidup yang panjang, sama seperti dirinya.
Sambil berdiri tegak, sang wanita nampak memegang pedang roh yang berwujud sama seperti Pedang Naga Suci 212 dalam bentuk yang sangat besar. "Apakah cucu buyutku, si Sinto Weni itu, pernah menjelaskan tentang makna dari amanat 212 kepadamu?" ujar sang nenek kembali.
Wiro seketika terhenyak. Ia memandang wanita di hadapannya dan seketika kembali berlutut serta bersujud. "Maafkan aku, Eyang... Bisakah aku mengenal nama Eyang yang mulia?" ucap Pendekar 212.
Pertanyaan itu dibalas dengan tertawa kecil dari para manusia raksasa di tempat itu. Akhirnya wanita di hadapannya menggerakkan tangan sebagai pertanda agar mereka diam. "Kami yang berada di tempat ini sudah memutuskan ikatan samsara baik di dunia ini maupun di akhirat, wahai anak manusia. Kemuliaan, derajat, dan kebanggaan diri sudah bukan lagi menjadi bagian dari diri kami. Kami sudah memutuskan untuk tidak mencampuri urusan apa pun yang terjadi di alam semesta ini dan berdiam di lembah ini menunggu sampai nanti tiba waktunya pengadilan akbar dari Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, namaku sebaiknya tidak perlu kau tahu."
Wiro nampak menelan ludah dan kemudian menganggukkan kepala. "Maafkan atas kelancanganku, Eyang... Aku yang bodoh ini memang masih perlu banyak diberikan pelajaran."
Sang wanita nampak tersenyum. "Kau adalah manusia yang baik, hanya sayangnya kau terkadang lupa akan fitrahmu sehingga melupakan amanah yang sebenarnya harus menjadi pondasi utamamu dalam menjalani hidup. Sekali lagi kutanyakan, apakah kau masih mengingat arti dari angka 212 di dadamu?"
"Tahu, Eyang... Angka satu berarti hanya ada satu Tuhan Sang Pencipta yang harus disembah. Lalu angka dua adalah semuanya itu tercipta berpasang-pasangan," ucap Wiro.
"Lalu apakah kau tahu mengapa angka satu diapit di tengah-tengah angka dua? Dan jika dua yang pertama adalah segala sesuatunya diciptakan berpasang-pasangan, lalu apa makna angka dua yang lainnya?" tanya wanita itu kembali.
Kali ini pemuda yang kerap kali dipanggil si "Anak Setan" oleh sang guru nampak terbeliak dan ternganga. Ia menggaruk-garuk kepalanya; kebiasaan lamanya muncul kembali. "Aku... aku tidak tahu, Eyang... Eyang Sinto belum menjelaskan sampai sejauh itu," ucap Pendekar 212 terbata-bata.
Wanita itu tersenyum dan kemudian beranjak mundur setelah melirik ke arah sosok raksasa Eyang Jagat Satria di sebelahnya.
"Penjelasanmu itu benar, wahai anak manusia. Yang satu itu memang berarti hanya ada Tuhan yang satu yang patut disembah, dan Tuhan yang satu itu menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Lalu mengapa angka satu berada diapit oleh dua angka dua? Apakah kau bisa menebaknya?"
Wiro menggeleng. Jelas ini merupakan hal yang baru bagi sang pendekar.
"Angka satu yang diapit oleh angka dua itu berarti Tuhan yang satu itu pada dasarnya selalu ada di tengah-tengah, bersama-sama dengan ciptaan-Nya yang berpasang-pasangan itu! Dia hadir hanya sejauh doa, tirakat, dan sujudmu."
"Lalu arti angka dua di belakang angka satu?" sambung Pendekar 212.
"Angka dua di belakang angka satu adalah berbicara tentang pilihan. Ya atau tidak, suka atau tidak suka, melakukan atau tidak melakukan, lurus atau bengkok, imbalan atau hukuman, surga atau neraka... Semuanya itu merupakan pilihan yang akan diambil oleh setiap anak manusia di dunia ini. Yang saling berpasangan itu akan selalu bersama dengan Yang Satu yang menciptakan, namun Yang Satu itu pun tidak akan memaksa makhluk ciptaan-Nya dalam menentukan pilihan jalan hidupnya. Namun itu bukan berarti Dia tidak mempedulikan kehidupan ciptaan-Nya. Dia akan selalu memberikan terang dan petunjuk, hanya dari manusia sendiri itulah yang harus memilih antara terang dan gelap."
Pendekar 212 nampak diam terpekur mendengar penjelasan Eyang Jagat Satria.
"Jadi bagaimana pilihanmu sekarang, wahai anak manusia bernama Wiro Saksana? Kau boleh tidak memilih dunia fana yang penuh penderitaan di bawah sana dan bergabung dengan kami, para pendahulumu dari trah naga 212, menjalani hidup damai sampai pengadilan akbar... Atau kembali ke duniamu yang penuh kebisingan, hiruk-pikuk, dan penderitaan tak kunjung usai, baik fisik maupun mental itu... Sanggupkah kau menjatuhkan pilihan?" ucap Eyang Jagat Satria sembari mengulurkan tangannya.
Hening begitu terasa di lembah tersebut. Angin semilir meniup lembut rambut panjang sang pendekar, cahaya mentari yang lembut menerpa membawa kehangatan di wajah Wiro. Setelah memandang berkeliling ke arah wajah-wajah para manusia raksasa, perlahan senyum akhirnya kembali terlihat di simpul bibir sang pendekar. Matanya yang sebelumnya kosong kini mulai menyorotkan cahaya kehidupan.
"Maafkan aku para Eyang sekalian... Aku sudah mengambil keputusan akhir. Sebegitu besar keinginanku untuk menikmati kedamaian di tempat ini bersama Eyang semua. Namun bukanlah diriku jika harus egois merasakan kedamaian seorang diri di sini tanpa memikirkan keadaan semua orang yang kucintai di bawah sana. Seperti kata-mu Eyang, amanat 212 mungkin amanat yang berat dan menyiksa untuk kutanggung seorang diri, namun selama yang SATU itu selalu berada bersamaku, seberat apa pun aku pasti akan menemukan petunjuk dan cahaya," ucap sang pendekar dengan suara mantap.
Ucapan pendekar ini tanpa disangka-sangka mendapat sambutan luar biasa! Puluhan Kapak Naga Geni dan Pedang Naga Suci sontak teracung tinggi di udara diiringi seruan penuh keharuan dan kebahagiaan.
"Kau benar-benar tidak mengecewakan kami, wahai anak manusia bernama Wiro Saksana! Penerus sejati amanat 212 memang bukanlah makhluk kerdil cengeng yang berjiwa lemah dan hanya pasrah menerima keadaan begitu saja! Kau memang layak berada di tempat ini dan menjadi bagian dari kami," ucap Eyang Jagat Satria.
"Terima kasih, Eyang... Aku kini mengerti apa yang harus kulakukan. Aku akan pergi menjemput takdirku, dan pilihanku adalah tidak akan menyerah sampai akhir!" tegas Wiro mantap.
"Keputusan yang bagus. Dan sebelum kau meninggalkan tempat ini, adakah sesuatu yang ingin kau tanyakan?"
"Maafkan pertanyaanku yang mungkin tidak sopan ini Eyang, namun aku tidak melihat keberadaan Eyang Arya Segoro dan Eyang Kinanti Saraswati di tempat ini," ucap Pendekar 212 sambil celingukan memandang ke arah para manusia raksasa yang merupakan pemegang senjata pusaka dari berbagai garis waktu dan dimensi.
"Mereka berdua memang tidak seberuntung dirimu yang bahkan hingga dua kali terpesat mengunjungi tempat ini. Masih ada ikatan di dunia yang harus mereka selesaikan," ucap wanita di samping Eyang Jagat Satria.
"Nanti juga kau akan kembali bertemu mereka berdua," tambah Eyang Jagat Satria sembari tersenyum. "Selamat jalan wahai anak manusia bernama Wiro Saksana."
Satu kabut bercahaya putih tiba-tiba menyeruak muncul dan berpendar perlahan di hadapan wajah Wiro. Kabut tersebut semakin lama semakin menyala benderang hingga menyilaukan mata, memaksa sang pendekar menutup kedua matanya.
Saat membuka mata, Pendekar 212 merasakan kelegaan yang luar biasa. Tubuhnya yang sebelumnya babak belur kini kembali segar. Bahkan tulang belakangnya yang sempat patah dan mengakibatkan tubuhnya bongkok kini kembali ke keadaan semula.
"Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu ini..." ucap sang pendekar dalam hati.
Rupanya saat dalam keadaan tidak sadarkan diri, ketujuh payung warna-warni saling bertumpuk dan menopang tubuhnya kembali ke lintasan matahari dan rembulan. Cermin retak milik Ratu Duyung pun tak henti-hentinya berputar mengelilingi sang pendekar, memantulkan cahaya matahari dan rembulan ke kedua tangan Wiro, di mana meringkuk Naga Dewa Mentari dan Naga Dewi Rembulan—bagian dari kitab Jagat Pusaka Dewa. Cahaya itulah yang memulihkan semua lukanya. Sementara itu, bunga kenanga putih terus memberikan gelombang hangat ke jantung Wiro yang sebelumnya berdegup lemah.
Kala kesadaran pulih sempurna, sang pendekar baru menyadari bahwa di hadapannya terdapat sembilan benda: tujuh buah payung, sebuah cermin retak, dan sekuntum bunga kenanga yang melayang dan perlahan memudar. Rasa haru membuncah di dada sang pendekar hingga matanya berkaca-kaca.
"Puti Andini... Suci... dan juga kau Intan, istriku... Aku begitu berhutang banyak kepada kalian. Walaupun raga dan keberadaan kalian akhirnya menghilang, namun masih kurasakan cinta kasih kalian yang mendalam. Bahkan jika selembar nyawa ini harus digadai untuk membalas kebaikan kalian, rasanya tidak akan cukup," tutur sang pendekar dengan wajah tertunduk. Perlahan, kesembilan benda itu pun sirna.
Wiro termenung sesaat, lalu melihat ke arah bawah kakinya. Dengan ilmu menembus pandang warisan Ratu Duyung, ia bisa melihat situasi di bawah sana.
"Aku harus mengakhiri semua ini. Sudah terlalu banyak jiwa yang terhilang oleh makhluk-makhluk perut bumi keparat itu!"
Sang pendekar membaca sebuah ajian, dan tiba-tiba dari tubuhnya keluar dua sosok serupa dirinya. Ia mengeluarkan ilmu "Tiga Bayangan Pelindung Raga" ajaran Rauh Kalidathi. Dengan ilmu "Ekor Bintang Menghujam Latinggimeru", ketiga sosok itu melesat menukik seperti bintang jatuh. Masing-masing sosok Wiro menyalurkan tiga ilmu puncak: Pukulan Mentari Tengah Malam, Pukulan Rembulan Tengah Hari, dan Pukulan Surya Gugur Gerhana.
Bab 6
Melihat kedatangan Pendekar Dua Satu Dua dari atas langit, semangat dan harapan pun bangkit dan tergugah kembali di hati Raja Mataram dan yang lainnya. Sambil bangkit berdiri, sang Raja pun berteriak keras, "Ini kesempatan kita untuk menghancurkan angkara murka! Mari kita kembali menggempur dewa raksasa ini sampai tetes darah penghabisan!"
Sambil berucap, sang Raja kemudian nampak mengarahkan sepasang telapaknya yang tiba-tiba membesar empat kali lipat dan berwarna kemerahan. Lalu, dari telapak tangan yang membesar itu, melesat satu sinar berputar berwarna merah menyala yang memancarkan hawa sangat panas. Raja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan telah mengeluarkan salah satu ilmu langka miliknya, yaitu ilmu Sepasang Tangan Dewa Menebar Angkara!
Bersamaan dengan itu, Nyi Roro Kidul dan Ratu Laut Utara pun kemudian turut mengeluarkan ilmu puncak yang dimiliki masing-masing. Begitu juga dengan Mahesa Kelud yang mengeluarkan pukulan Api Salju, dan Mahesa Edan dengan pukulan Makam Sakti Meletus. Dari tangan mereka semua memancar ilmu pukulan beraneka warna yang sangat angker dan mematikan, tertuju langsung ke arah resi dewa raksasa!
"Tunggu dulu teman-teman... Aku juga mau ambil bagian!" satu suara dari ketinggian tiba-tiba terdengar. Rupanya Santiko si Bujang Gila Tapak Sakti, yang sebelumnya mendeprok pingsan di salah satu pecahan Candi Prambanan yang melayang di udara, telah terbangun.
Lalu dengan menggunakan ilmu kesaktiannya, sang pendekar gemuk ini kemudian menarik uap air laut yang berada di sekitarnya dan membekukannya menjadi es dengan ukuran mahabesar, yang sampai-sampai berukuran sebesar sebuah candi! Es mahabesar itu pun kemudian dihempaskannya ke arah bawah dengan kecepatan luar biasa!
Sang Resi Raksasa yang merasakan terhimpit oleh daya tekan serangan luar biasa yang tertuju kepadanya tiba-tiba nampak meraung keras! Dengan wajah menengadah ke atas, nampak selarik sinar sepasang pedang dewa keluar dari sepasang matanya, disusul nyala kobaran api berwarna hitam kelam menyembur dari mulutnya yang terbuka, menuju langsung datangnya serangan dari atas langit!
Sementara itu, berbarengan dengan serangan dahsyat yang ditujukan ke arah langit, hentakan gelombang tak kasat mata dari tubuh sang resi turut kembali menyeruak dan memapak datangnya serangan ilmu jarak jauh yang dilepaskan oleh Raja Mataram, Mahesa Kelud, dan Mahesa Edan, serta kedua ratu penguasa Laut Jawa!
Dentuman mahadahsyat yang belum pernah terjadi selama ini di bumi Mataram menggelegar membahana manakala kekuatan gabungan ilmu kesaktian para tokoh dunia persilatan ini berbenturan langsung dengan pertahanan Resi Raksasa perwujudan keenam dewa sesat. Bola api raksasa yang diselubungi debu dan pecahan es yang menguap nampak membumbung tinggi, bahkan sampai jauh ke atas langit!
Suara dentuman mahadahsyat tersebut juga menghasilkan gelombang kejut yang menyeruak dari pusat benturan ilmu kesaktian dan menjalar ke seantero negeri, bahkan melesat jauh hingga ke puncak Merapi di mana terdapat tokoh-tokoh dunia persilatan dan rakyat Mataram yang berada dalam pengungsian.
"Teman-teman semua! Cepat lindungi rakyat yang tak berdosa...!" seru Bidadari Angin Timur sambil menghentakkan tangan ke arah depan, membentuk benteng tenaga dalam tak kasat mata berbentuk pusaran angin guna menghadang datangnya gelombang kejut yang datang dari arah Mataram.
Anggini, Purnama, Dewi Dua Musim, serta tokoh dunia persilatan lainnya yang telah berada di tempat itu setelah mengangkut rakyat Mataram yang tersisa pun sontak merentangkan tangan masing-masing guna membangun dinding penghalang. Akhirnya terciptalah satu dinding penghalang berupa kubah pusaran angin raksasa yang melindungi ribuan rakyat Mataram yang ada di belakang mereka dari serbuan gelombang kejut yang datang mendera.
"Jagat dewa batara... Sesungguhnya apa yang telah terjadi di bumi Mataram sana...?" desis Dewi Dua Musim sambil melihat bola api raksasa yang terlihat jelas membumbung tinggi dari kejauhan.
Berkas-berkas api dan debu es perlahan menguap dan bola api raksasa mulai menghilang di langit Mataram. Pemandangan yang mengiriskan hati terlihat manakala satu lubang geroakan raksasa tercipta di tanah bekas berdirinya Candi Prambanan akibat benturan serangan yang dilancarkan oleh Wiro dan kawan-kawan.
Pukulan Tapak Mentari Tengah Malam dan Rembulan Tengah Hari tidak saja menghancurkan ilmu sepasang pedang dewa milik sang resi, namun juga tepat mendarat di kedua pundak sang Resi Raksasa. Sementara pukulan Surya Gugur Gerhana juga berhasil menembus serangan api hitam kegelapan inti bumi yang dilepas oleh sang dewa raksasa. Pukulan sakti tersebut mendarat langsung di kepala sang resi.
Sementara itu, bentrokan ilmu kesaktian Raja dan dua Ratu serta kedua Mahesa juga mampu menembus hentakan gelombang kejut yang dikeluarkan oleh sang resi dewa. Apalagi ditambah oleh hantaman es raksasa milik Bujang Gila Tapak Sakti. Akhirnya, dari bentrok kekuatan gabungan ilmu-ilmu dahsyat tersebut terciptalah satu bentuk reaksi ledakan yang membuat dentuman mahadahsyat, yang akhirnya memisahkan keenam sosok dewa sesat dari wujud Resi Raksasanya!
Hal ini jelas merupakan hal yang menggembirakan, namun harus dibayar dengan sangat mahal oleh para pendekar golongan putih yang tersisa. Wiro, Raja Mataram, kedua Ratu dan kedua Mahesa, serta Bujang Gila Tapak Sakti semuanya terlempar ke udara dalam keadaan terluka dalam! Bahkan Pendekar Dua Satu Dua yang telah kembali ke wujudnya yang tunggal terlempar dalam keadaan bersalut kobaran api!
Lalu bagaimana dengan Setan Ngompol dan Naga Kuning? Hanya mereka berdua saja yang tidak terlempar karena sebelumnya sudah menyelam ke dasar air dan mati-matian berpegang pada reruntuhan Candi Prambanan yang tidak turut terangkat. Namun karena tekanan yang sangat kuat, keduanya toh akhirnya pingsan juga dalam posisi saling berpegangan tangan dan berangkulan!
Saat melihat para pendekar yang diharapkan oleh seluruh dunia persilatan ini terlempar bergelimpangan, membuat hati Dewa Tuak menjadi kalut. Namun kala dilihatnya ikatan rantai emas aksara langit masih erat membelit wujud keenam dewa yang telah kembali ke sosok asalnya, harapan kembali bergelayut di dalam dada sang pendekar tua.
"Tetap bertahan! Jangan kendorkan perhatian! Keenam dewa itu telah terpisah dari kesatuannya, jadi sekaranglah giliran kita untuk menghabisi mereka...!"
Belum selesai Dewa Tuak berbicara, tiba-tiba seluruh langit gelap berubah menjadi berwarna kemerah-merahan! Lalu dari langit yang merah tersebut tiba-tiba nampak menyeruak satu bentuk mata raksasa berwarna merah kekuningan dengan bola mata hitam lancip yang angker menggidikkan, tergantung di atas langit! Mata tunggal raksasa ini bahkan ukurannya puluhan kali jauh lebih besar dari sang Resi Raksasa!
"Jagat dewa batara! Mata langit penghuni lubang kegelapan akhirnya menunjukkan rupanya di dunia..." desis para dewa yang tersisa dengan suara bergetar dan keringat dingin menetes di dahi dan tengkuknya masing-masing.
Mata langit yang berukuran mahabesar yang sekelilingnya dikobari lidah-lidah api berwarna merah kekuningan ini terlihat bergerak-gerak menyorot ke segala arah. Lalu tiba-tiba mata langit itu nampak memandang menyorot ke arah barisan Rantai Sambung Jiwa Hati Dewa dan Manusia, lalu berganti menyorot ke arah keenam dewa yang nampak berkelojotan dalam ikatan rantai emas aksara langit.
Sang mata langit kemudian tiba-tiba nampak mengerjapkan mata! Satu gelombang kembali menghantam dari langit dalam bentuk sapuan gelombang raksasa berbentuk awan yang berisi lidah api dan berkas-berkas petir berwarna hitam!
"Yaaa Gusti Allah...!!!" teriak Dewa Tuak seraya memicingkan matanya menahan sapuan gelombang yang datang melabrak Rantai Sambung Jiwa Hati Dewa dan Manusia!
Gelombang mahadahsyat ini juga kontan menghantam tubuh keenam dewa yang terikat. Yang anehnya adalah saat berkas gelombang yang dikeluarkan kerjapan mata langit mengenai keenam dewa tersebut, suara jerit dan lolongan dari keenam dewa tersebut terdengar membumbung tinggi jauh ke angkasa.
"Tidaaaak... Jangaaaan!!!" teriak keenam dewa tersebut dalam keadaan berkelojotan masih dalam posisi terikat rantai emas. Keenam sosok dewa tersebut perlahan berubah seolah terselubungi kobaran api, lalu berkelojotan mengkerut, dan kemudian akhirnya hangus menjadi abu hitam dan tersedot naik membumbung masuk ke arah mata langit!
Sapuan gelombang mahadahsyat yang dipenuhi berkas petir dan lidah-lidah api yang keluar dari kerjapan mata langit raksasa pun nyatanya sukses menghantam semua benda yang berada di sekelilingnya. Rantai Sambung Jiwa Hati Dewa dan Manusia yang terdiri dari jalinan para dewa dan orang-orang suci yang saling berpegangan tangan di angkasa ini pun langsung hancur kocar-kacir porak-poranda, runtuh dan bertebaran jatuh ke arah bumi!
Begitu juga yang dialami oleh Wiro dan kawan-kawan yang sebelumnya terlempar berpentalan akibat tumbukan ledakan kala berbarengan menyerang Resi Dewa Raksasa. Keadaan mereka yang sudah babak bundas tersebut semakin diperparah oleh gelombang kerjapan mata yang juga melanda mereka saat masih di udara!
Memang sungguh dahsyat kerusakan yang diakibatkan oleh mata langit yang telah menelan habis keenam dewa yang memberontak ini. Perlahan namun pasti, seribu candi bagian dari Candi Prambanan yang terangkat naik dan mengambang di udara, dan juga sisa-sisa dari istana penyangga langit pun mulai berderak hancur dan berjatuhan dari angkasa!
"Jodoh kita hanya sampai di sini Yang Mulia... Tetaplah kuat dan jangan menyerah..." ucap patung Roro Jonggrang yang berada dalam dekapan Sri Maharaja Mataram.
Sri Maharaja Mataram hanya nampak menutup matanya yang sembab sembari semakin erat memeluk patung dewi yang membuatnya jatuh cinta tersebut. Tubuhnya yang sudah kehilangan semua kekuatannya tersebut terlihat jatuh deras ke arah bumi sambil terus memeluk patung batu yang juga mulai hancur berkeping-keping tertiup angin bumi Mataram.
Bab 7
Suara dahsyat saling sahut-menyahut menghiasi kelamnya langit menjelang fajar. Tak ada lagi perlawanan, tak ada lagi yang sanggup mengatasi angkara murka. Namun, selayaknya mentari yang selalu terbit dan menghangati bumi, harapan pasti akan selalu ada. Di saat semua orang telah menyerah dan berputus asa, semburat cahaya mulai terbit dan menghangati dinginnya langit kelam.
Bersamaan dengan terbitnya mentari di ufuk timur, satu kilatan cahaya berwarna biru dan merah nampak melesat memburu langsung ke arah mata langit! Keris Naga Sanjaya yang bersinar kebiruan nampak terlihat anggun melesat bersandingan dengan cahaya merah angker sang Putra Langit, Pedang Naga Merah! Kedua saudara kandung yang selama ini saling dendam dan bermusuhan ini akhirnya berdamai dan bersatu hati dalam genggaman erat pemuda tanggung, Jabrik Sakti Wanara!
Fajar harapan telah tiba!
"Kakang Wanara! Aku datang membantu mu!" satu suara gadis kecil kemudian tiba-tiba terdengar membahana, menyusul dari arah langit timur!
Kemudian didahului suara ringkikan kuda yang bagaikan suara guntur, satu sosok yang menggetarkan hati pun terlihat turut melesat ke arah mata langit! Seorang gadis kecil dengan mata biru dan rambut pirang terurai nampak berdiri gagah di atas Puti Sembrani, kuda bersayap kesayangan dan peliharaan para dewa atas langit.
Dengan mata tajam, gadis ini kemudian terlihat merentangkan tali Gendewa Cinta Kasih yang digenggamnya erat. Gendewa yang dibuat atas pengorbanan dan menggunakan ruas tulang punggung Luhcinta atau Dewi Langit Bunga Tanjung ini nampak bergetar dan memancarkan cahaya indah laksana berlian! Dari mata biru indah gadis kecil yang besar dalam pondongan Jabrik Sakti ini, kemudian menetes setetes air yang tiba-tiba berubah menjadi satu sinar berwujud anak panah berwarna keemasan. Anak panah yang merupakan intisari pengorbanan seribu peri atas langit!
Anak panah inilah yang kini langsung diarahkan oleh gadis cilik anak Ratu Duyung ini ke tengah-tengah mata langit raksasa! Dengan bibir tersenyum, Pendekar 212 terus menatap ke arah gadis cilik yang datang mengendarai kuda Sembrani ini. Tubuhnya yang dikobari api dan meluruk dahsyat ke arah bumi bersama para tokoh dunia persilatan, para dewa, dan sesama orang suci lainnya tidak dipedulikannya sama sekali. Matanya terus tertuju ke arah gadis cilik kesayangannya tersebut.
"Intan Suci Angin Timur... Ayah percaya padamu, Nak..." tutup Pendekar 212 sambil tersenyum dan kemudian menutup mata, disambut oleh deru angin dan semburat cahaya pagi di langit Mataram!
Dengan meliuk lincah menggunakan Angkin Bidadari pemberian terakhir Peri Bunda, Jabrik Sakti Wanara nampak melesat ke sana kemari sambil menyabetkan Pedang Naga Merah dan menusuk menggunakan Keris Naga Sanjaya ke arah mata langit. Mata langit nampak sibuk dan terus menyorot bergantian ke arah dirinya dan Intan Suci Angin Timur yang terus melepaskan anak panah emas Jiwa Suci Seribu Peri.
Serangan sang pemuda remaja dan gadis kecil ini terlihat kompak dan serasi, sehingga cukup merepotkan mata langit yang merasa kesakitan akibat terjangan tiga senjata di tangan kedua anak murid Eyang Arya Segoro dan Eyang Kinanti Saraswati ini. Mendadak, mata langit kembali mengerjapkan mata tunggalnya. Lalu dari arah mata yang menyala angker dan menimbulkan hawa panas menyayat itu, melesat ribuan cahaya merah berbentuk panah api yang langsung menyerang ke arah Jabrik Sakti Wanara dan Intan Suci Angin Timur!
Melihat datangnya serangan tersebut, Jabrik Sakti Wanara dan Intan Suci Angin Timur tidak terlihat takut apalagi gentar. Keduanya kemudian terlihat menyimpan senjata masing-masing dan menghadang datangnya serangan ribuan panah api tersebut dengan menggunakan kesaktian yang dimiliki keduanya.
Dengan menghimpun tenaga gaib Bintang Sakti Bunga Tanjung yang terdapat pada Kitab Seribu Bintang yang terikat di punggungnya, Jabrik Sakti Wanara nampak menghentakkan tangannya ke depan melepas pukulan Benteng Topan Melanda Samudera! Sementara dari atas kuda Sembraninya, Intan Suci Angin Timur dengan bantuan tenaga sakti Inti Malaikat dari Kitab Wasiat Malaikat yang berada di balik bajunya, terlihat menghentakkan sepasang tangan mungilnya dan melepaskan pukulan Dinding Angin Berhembus Tindih-Menindih!
Kedua pukulan berbentuk dinding angin maha kuat yang dilepas oleh Jabrik Sakti Wanara dan Intan Suci Angin Timur ini memang benar-benar dahsyat dan mampu mendorong mental sebagian sinar panah api yang menyerang mereka berdua. Sayang, masih ada satu sinar panah api yang lolos dan menancap di sayap Puti Sembrani, kuda tunggangan sang gadis cilik!
"Puti! Tenangkan dirimu!" teriak sang gadis berusaha menenangkan sang kuda Sembrani yang nampak panik karena sebelah sayapnya terkena panah dan dilanda kobaran api!
Melihat gelagat tersebut, sang gadis cilik langsung melompat di udara dan menunjuk ke arah air banjir yang berada di bawah kakinya. "Cepat ceburkan dirimu ke dalam air di bawah sana, Puti!" teriak sang gadis sembari menepuk leher sang kuda tunggangan. Ringkikan keras membalas teriakan itu, dan sang kuda tunggangan para dewa tersebut melesat ke bawah, menceburkan diri ke dalam air banjir guna memadamkan api di sayapnya.
Sementara itu, setelah melihat kuda tunggangannya tersebut telah masuk ke dalam air dan berhasil memusnahkan api yang membakar sebelah sayapnya, gadis cilik anak terkasih Pendekar 212 dan Ratu Duyung ini kemudian nampak terlihat sedang berlari lincah di tengah udara menyongsong kembali ke arah Mata Langit!
Walaupun tidak mempunyai kemampuan untuk terbang di udara seperti Jabrik Sakti Wanara, namun berkat Kasut Pelari Alam Gaib yang dipakainya, sang gadis kecil ini memiliki kemampuan untuk berjalan dan berlari di tengah udara! Kasut sakti ini sendiri merupakan benda yang didapat oleh sang gadis cilik kala menang bertaruh adu jangkrik melawan kakek cebol Pelari Alam Gaib di Negeri Bunian.
"Kau tidak apa-apa, Adikku?" ucap Jabrik Sakti saat menyongsong kedatangan Intan Suci.
"Tidak Kakang, aku tidak apa-apa..."
Uban atau Jabrik Sakti nampak memandang penuh perhatian kepada gadis kecil yang selama ini diasuhnya itu. Rasa bangga dan haru mengalir di dada sang pemuda remaja kala melihat gadis cilik yang sudah beberapa tahun tidak ditemuinya ini, kini telah kembali di hadapannya dengan menunggangi kuda Sembrani dewa serta memiliki senjata sakti dan ilmu kesaktian sangat tinggi.
"Kau benar-benar telah menjadi orang hebat, Adikku... Kakang benar-benar bangga padamu..." ucap Uban sambil mengusap kepala gadis kecil yang dikasihinya layaknya adiknya sendiri itu.
Mendengar pujian sang kakak, wajah sang gadis cilik tersebut pun sontak bersemu merah. "Jangan kau goda aku, Kakang Wanara..."
Uban nampak tersenyum senang melihat ucapannya membuat sang adik nampak memerah malu. Namun, belum lagi Uban hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara dengingan tinggi yang menyeruak di atas langit! Sosok berwujud mata raksasa yang berwarna merah kekuningan tersebut kemudian sinarnya nampak tiba-tiba meredup seketika dan mendadak berganti menjadi cahaya berpendar berwarna biru gelap kehitam-hitaman yang memancarkan hawa dingin yang mencucuk tulang! Tidak sampai di situ, mata tunggal yang sebelumnya terlihat membeliak menakutkan ini kemudian terlihat menutup untuk beberapa saat.
Karaeng Uleng Tepu nampak berusaha membangunkan dan memapah Dewa Tuak, yang sepasang matanya nampak terus tertuju ke arah perubahan aneh yang terjadi pada wujud mata langit raksasa.
"Apa maksudnya perubahan ini, Karaeng? Apakah kau mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan perubahan mendadak yang terjadi pada makhluk berwujud mata tunggal raksasa di atas langit sana?" tanya Dewa Tuak kepada pria tinggi besar yang sedang memapahnya bangun tersebut.
Rupanya, para dewa dan tokoh dunia persilatan yang sebelumnya bergandengan tangan di atas langit dan kemudian terjatuh ke bumi, kini nampak mulai bangkit dan turut pula memperhatikan keanehan yang ditunjukkan Mata Langit.
Dengan menghela napas panjang, laki-laki tanah Makassar yang lama hidup di istana atas langit ini pun kemudian angkat suara. "Aku pun tidak mengetahui banyak tentang perubahan ini, wahai Dewa Tuak... Namun, satu yang pasti aku ketahui adalah hal ini bukan merupakan sesuatu yang baik bagi kita semua..."
Dewa Tuak nampak terdiam mendengar jawaban Karaeng Uleng Tepu.
"Mungkin kau sudah pernah mendengar dari penuturan Yang Mulia Dewa Agung Penyangga Langit dan Bumi... Bahwa negeri atas langit dan semua dewa-dewi yang menghuninya pada dasarnya bukanlah makhluk termulia dan tertinggi yang ada di alam semesta ini, wahai Dewa Tuak. Masih ada Dia, Makhluk-Termulia-yang-melampaui-semua-yang-hidup-dan-bernyawa, yang-mati-dan-tak-bernyawa... Dialah sebenarnya yang mempunyai kuasa atas alam semesta ini beserta segala isinya..." tutur sang Karaeng.
"Kau benar Karaeng, kami menyebut Beliau dengan sebutan Gusti Allah..." ucap Dewa Tuak.
"Yah... Gusti Allah... Umat manusia menyebut-Nya dengan banyak nama... Dan ingatan masa silamku yang semakin terkikis pun menyetujui nama itu sebagai sesembahan yang tertinggi yang harus kusembah dari dalam nurani dan kesadaranku yang terdalam... Sebelum aku terpesat ke negeri para makhluk dewata itu..." ucap Karaeng sambil terdiam sesaat.
"Nah, jauh sebelum adanya para makhluk suci yang disebut dengan sebutan para dewa, maupun manusia, ataupun iblis, setan, dan para cecunguknya, ada satu bentuk kuasa teramat jahat yang berdiam di alam semesta dan selalu berusaha merayap naik untuk mencapai kediaman Sang Cahaya-yang-pertama-dan-selamanya itu... dan kuasa jahat tersebut berwujud sebuah mata raksasa yang dikenal dengan sebutan Mata Langit Kekelaman Tanpa Akhir..." sambung kembali Karaeng Uleng Tepu.
"Apakah Mata Langit Kekelaman Tanpa Akhir ini juga bagian dari iblis atau malaikat yang terjatuh karena tidak mau menyembah Gusti Allah dan Nabi Adam?" tanya kembali Dewa Tuak.
"Tidak... Mata Langit Kekelaman Tanpa Akhir sudah ada bahkan sebelum iblis dan para malaikat yang terjatuh itu ada... Begitu jahatnya mata langit ini sehingga Dia-yang-termulia-yang-melampaui-semua-yang-hidup-dan-bernyawa, yang-mati-dan-tak-bernyawa bahkan tidak berkenan untuk melemparnya ke dunia bawah... Beliau menyegel makhluk jahat ini dalam lubang kegelapan yang terdalam di alam semesta agar tidak bangkit lagi dan membuat kekacauan di dunia ini..." tutup Karaeng Uleng Tepu.
"Lalu bagaimana makhluk dajjal ini bisa turun ke dunia...?" tanya kembali Dewa Tuak.
Belum sempat Karaeng Uleng Tepu menjawab pertanyaan sang guru pendekar kerudung ungu ini, satu suara kaleng rombeng bergoncang terdengar menyeruak dari arah samping tubuhnya.
"Ah, akhirnya datang juga kau gembel buta bulukan..." ucap Dewa Tuak kala melihat kedatangan sosok seorang kakek bercaping bambu dan memegang kaleng rombeng berisi batu yang kerap digoncang hingga mengeluarkan suara keras ini. Sang kakek bermata putih kosong melompong ini terlihat menengadah ke atas langit seolah memandang perwujudan Mata Langit yang sedang tergantung di langit Mataram.
Sosok kakek buta memakai caping bambu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakek Segala Tahu ini kemudian membuka suara. "Segala yang terjadi adalah sudah suratan takdir, Suro Lesmono, begitu juga dengan keberadaan sang Mata Langit... Keenam dewa yang memberontak dan terjebak di hukum terkunci dalam lempeng cermin penjara gaib pedataran arwah yang berputar melayang dalam kekosongan itu, tanpa disengaja masuk ke dalam lubang kegelapan tanpa akhir... Keenam dewa ini akhirnya menjual jiwanya kepada Mata Langit yang menguasai dan tersegel tersembunyi dalam lubang kegelapan tanpa akhir itu, untuk meraih kebebasan mereka yang terampas..." tutur sang kakek bermata buta.
"Ah, jadi itu alasannya mengapa keenam dewa pemberontak itu sampai akhirnya mati mengenaskan dalam keadaan terhisap ke dalam Mata Langit! Sang Mata Langit Kekelaman Tanpa Akhir rupanya meminta haknya kembali!" seru Karaeng Uleng Tepu sembari menepuk kedua pahanya dengan keras.
"Jika memang sedahsyat itu kekuatan Mata Langit, mengapa tidak dari dulu Mata Langit turun ke dunia dan melakukan apa yang dia inginkan?" ucap Dewa Tuak yang masih penasaran.
"Karena para dewa yang dipimpin oleh Yang Mulia Dewa Agung Penyangga Langit Bumi masih ada di dunia, wahai Dewa Tuak..." ucap kembali Karaeng Uleng Tepu seolah tersadar akan satu hal.
"Kau benar Karaeng... Sesungguhnya istana atas langit, Gerbang Chandrasoma yang berada di bulan, serta Gerbang Surya Mentari yang ada di matahari merupakan tiga titik yang menyegel Mata Langit Kekelaman Tanpa Akhir di dalam lubang kegelapan semesta yang terdalam. Telah berkali-kali Mata Langit mengirim utusannya, yaitu para makhluk yang disebut dengan panggilan Setan dari Luar Jagat, untuk menyerbu dan membumihanguskan ketiga tempat tersebut. Berkali-kali pula kami para dewa berhasil menghalau mereka seperti pula yang kau ketahui selama ini. Sayangnya kali ini kami semua para dewa mengalami kegagalan, dan junjungan kita, Yang Mulia Dewa Agung Penyangga Langit dan Bumi pun sampai harus turut moksa menghilang keberadaannya. Hancurnya istana atas langit dan runtuhnya Gerbang Chandrasoma serta Gerbang Surya Mentari-lah yang akhirnya membebaskan makhluk junjungan mereka tersebut dari lubang kegelapan yang ada di alam semesta..."
Kali ini Dewa Langit Harimau Dewa yang telah pulih dari luka-lukanya yang menjawab pertanyaan sang sahabatnya itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Sahabatku Dewa Langit Harimau? Kita tidak tahu apa yang bisa kita..." belum lagi Karaeng Uleng Tepu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba hawa dingin yang menusuk kulit terasa santer manakala Mata Langit tiba-tiba terlihat membuka matanya! Dan mata itu kini berubah!
Dari dalam mata yang entah kenapa kini telah berganti warna menjadi biru kelam yang mengepulkan asap hitam itu, tiba-tiba terlihat melesat keluar puluhan orang yang kemudian berdiri diam mematung di udara di hadapan Mata Langit! Puluhan orang tersebut nampak memiliki wujud dan perawakan yang berbeda-beda. Ada pria dan ada pula wanita, tua dan muda pun nampak beragam.
Namun, yang satu menjadi kesamaan para sosok yang keluar dari Mata Langit ini adalah semuanya terbungkus oleh cahaya biru berpendar yang mengepulkan asap tipis kehitaman, dan di setiap kening mereka nampak sebuah mata berwarna merah kekuningan yang terus bergerak menyorot ke segala arah!
"Astaga! Apakah tidak salah lihat mata tuaku ini? Bagaimana bisa mata raksasa itu mengenali dan menghadirkan para bedebah ini? Orang-orang ini adalah para durjana jahat yang seharusnya sudah lama mati!" kejut Dewa Tuak kala melihat sosok-sosok yang berdiri diam di tengah udara tersebut.
"Apakah kau yakin akan hal itu, orang tua? Benarkah kau mengenali mereka?" tanya Karaeng Uleng Tepu yang langsung dibalas anggukan oleh Dewa Tuak.
"Aku yakin seyakin-yakinnya, Karaeng... Karena sebagian keparat-keparat ini dihabisi langsung oleh Pendekar 212 dan rekan-rekannya karena kejahatan mereka yang setinggi langit dan sedalam lautan..." ucap sang pendekar tua dengan wajah muram.
Apa yang dikatakan oleh Dewa Tuak memang kenyataan adanya. Di langit, di udara yang menggantung, berdiri puluhan sosok manusia yang dulunya sangat dikenal akan kejahatannya. Sosok-sosok itu antara lain: Mahesa Birawa, Hang Kumbara alias Raja Rencong dari Utara, Wirapati si Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga, Tiga Setan Darah, Dewi Siluman Bukit Tunggul, Rangrang Srenggi si Penguasa Istana Darah, Siluman Teluk Gonggo, Dewi Kala Hijau, Nenek Kelabang Merah, Mayat Hidup Gunung Klabat, Jagal Iblis Makam Setan, Ratu Serigala, Ki Ageng Tunggul Akhirat dan saudaranya Ki Ageng Tunggul Keparat, Patih Wirabumi, Adipati Jatilegowo, Momok Dempet Berkaki Kuda, Singo Abang, Datuk Lembah Akhirat, dan masih banyak tokoh jahat lainnya. Tokoh-tokoh sesat yang telah lama binasa itu kini dihadirkan kembali ke dunia melalui kekuatan menakutkan Mata Langit Kekelaman Tanpa Akhir!
"Hmm... Bahkan bukan hanya orang-orang jahat dari tanah Jawa dan dari zaman ini semata yang ada... Bahkan orang-orang jahat dari negeri Latanahsilam dan negeri Mataram delapan ratus tahun yang lalu pun tampaknya turut dibangkitkan oleh makhluk berwujud mata tunggal di atas sana..." ucap Hantu Raja Obat yang langsung diamini oleh Lakasipo si Hantu Kaki Batu.
"Benar-benar hal yang susah untuk dipercaya kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri... Sungguh tidak kusangka kalau dapat kembali bertemu dengan saudara kita yang tersesat itu di negeri ini..." desis Lakasipo sambil menatap tajam ke arah salah satu sosok yang mengambang di atas langit. Makhluk yang disorot tajam oleh Lakasipo adalah makhluk yang di dada dan kepalanya dipenuhi oleh batu-batu api yang menyala membara! Siapa lagi orangnya kalau bukan Hantu Bara Kaliatus!
Seperti yang dikatakan oleh Hantu Raja Obat, di antara sosok makhluk yang berdiri mengambang di udara, selain para tokoh jahat Tanah Jawa, juga terdapat tokoh-tokoh dari negeri Latanahsilam dan negeri Mataram delapan ratus tahun yang lalu.
Dari Latanahsilam terlihat: mantan utusan Dewa Lamanyala, dua gadis bahagia Luh Kenanga dan Luh Kemboja, sepasang hantu bercinta Luhjahilio dan Lajahilio, Hantu Tangan Empat, Hantu Santet Laknat, dan juga Hantu Muka Dua si pemilik Istana Kebahagiaan.
Sementara tokoh-tokoh yang dibangkitkan oleh Mata Langit dari negeri Mataram delapan ratus tahun yang lalu ada: Empat Mayat Aneh, Sinuhun Merah Penghisap Arwah, Ketua Seratus Jin Perut Bumi, dan terakhir adalah Lakarontang alias sang Jenazah Simpanan.
Benar-benar laskar kegelapan seribu jahat seribu kejam telah ditarik keluar dari jurang Neraka.
Bab 8
Sementara itu, para tokoh dunia persilatan yang sebelumnya berada di puncak Merapi juga telah mulai berdatangan ke Candi Prambanan. Mereka langsung mendapati rombongan Dewa Tuak dan Raja Mataram.
"Kau tidak apa-apa, Guru?" ucap Anggini yang datang menghampiri sang guru didampingi oleh Mahesa Kelud.
"Aku tidak apa-apa, muridku. Bagaimana keadaanmu sendiri dan bagaimana juga keadaan rakyat Mataram?" tanya Dewa Tuak.
"Aku baik-baik saja, Guru. Seluruh rakyat juga sudah aman dan terselamatkan. Hanya saja mereka semua masih berlindung di puncak Merapi untuk sementara waktu, menunggu situasinya aman dan terkendali," ucap Anggini.
Dewa Tuak nampak mengangguk kecil, lalu kemudian pendekar tua ini terlihat mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia akhirnya menyadari bahwa banjir bandang yang dibawa oleh Nyi Roro Kidul rupanya telah menyusut. Sebagian air bah tersebut menguap habis akibat diserap oleh Bujang Gila Tapak Sakti kala menciptakan gunung es raksasa, dan sebagian lagi habis menguap akibat ledakan dahsyat benturan berbagai ilmu pukulan yang dilepaskan oleh para tokoh dunia persilatan terhadap Resi Dewa Raksasa.
Dilihatnya pula selain Anggini, para tokoh dunia persilatan lain yang bertugas menyelamatkan rakyat Mataram—yang baru terbebas dari Kabut Dewa—telah kembali dari tempat pengungsian di puncak Merapi. Selain sisa-sisa para dewa dan dewi seperti Dewa Air, Dewa Gunung, Dewa Petir, dan beberapa dewa lainnya yang nampak terdiam mematung menatap mata langit, para tokoh lainnya juga telah hadir. Sebagian nampak berusaha menyadarkan Setan Ngompol, Naga Kuning, dan Bujang Gila Tapak Sakti yang nampak terlentang berdampingan dengan perut besar mengembung berisi air laut!
Tidak jauh dari tempat itu, Raja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan, Nyi Roro Kidul, Ayu Lestari (Ratu Laut Utara), Purnama yang sedang memapah Mahesa Edan, dan Tubagus Kesuma Putera nampak sedang mengelilingi Bidadari Angin Timur. Sang gadis nampak sedang bersimpuh, sibuk berusaha mematikan api yang masih berkobar kecil di tubuh sang Pendekar 212. Setelah api di tubuh sang pendekar padam, Bidadari Angin Timur kemudian nampak berusaha memondong tubuh Wiro yang sedang tidak sadarkan diri dan hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Akan kau bawa ke mana tubuh Pendekar 212, Sahabatku Bidadari?" tanya sang Raja Mataram dengan penuh keheranan.
Bidadari Angin Timur memalingkan wajahnya sesaat dan menunduk hormat ke arah sang raja. "Aku ingin membawa Wiro ke tempat yang tenang dan berusaha menyadarkannya, Yang Mulia Raja. Harap sudi kiranya memberikan perkenanan," ucap sang gadis berambut pirang yang dibalas anggukan kepala oleh sang Raja Mataram.
Melihat hal ini, sang gadis langsung melesat menjauh ke arah sebuah pohon rindang yang berada tidak jauh dari puing reruntuhan Candi Prambanan. Semua ini tidak terlepas dari tatapan sayu Tubagus Kesumaputera yang menatap punggung sang gadis. Dengan hembusan napas berat, pemuda itu membalikkan tubuh dan berjalan bergabung dengan rombongan Raja Mataram serta para tokoh lainnya.
Bidadari Angin Timur menurunkan tubuh Pendekar 212 dan menyandarkannya ke batang pohon. Sang gadis mengeluarkan saputangan berwarna biru dari balik sabuknya, lalu membasahinya dengan air yang tergenang dalam lekukan akar pohon. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia membasuh kedua tangan dan dada Wiro yang memperlihatkan kulit gosong melepuh. Saat hendak membasuh wajah sang pendekar, gerak tangannya terhenti. Pandangan matanya yang khawatir bertemu langsung dengan mata Wiro yang menatapnya lembut.
"Kau... kau sudah sadar?" ucap sang gadis terbata, yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Wiro.
Dengan wajah merah tersipu, gadis berlesung pipit ini buru-buru beranjak bangun untuk pergi, namun telapak tangannya diraih oleh Wiro. "Bidadari..." suara Wiro terdengar hangat. "Kau mau pergi ke mana?"
"Aku... aku ingin kembali bersama rombongan raja dan yang lain. Perang ini masih belum berakhir," ucap sang gadis lirih.
"Benarkah hanya itu yang kau pikirkan? Mengapa aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Apakah kau tidak senang berjumpa kembali denganku, Bidadari?"
Ditanya seperti itu, Bidadari Angin Timur terpaksa membalikkan badan. "Bukan begitu, Wiro. Bukan aku tidak senang... hanya saja aku merasa telah bersalah kepadamu. Aku pernah membuatmu terluka begitu parah. Aku juga merasa bersalah terhadap apa yang menimpa istrimu, Ratu Duyung. Aku..."
Belum habis ucapannya, sang pendekar sudah menarik sang gadis ke dalam pelukannya!
"Wiro..." ucap sang gadis lirih sembari membenamkan wajahnya di dada sang pendekar.
Setelah beberapa saat, Bidadari Angin Timur menolak lembut tubuh Wiro. "Seperti kataku tadi, Wiro... kita masih di tengah pertempuran. Tidak patut jika kita dilihat seperti ini oleh yang lain."
"Ah, maafkan aku. Kau benar. Masih banyak yang harus kita lakukan, dan aku memerlukan bantuanmu untuk mengakhiri peperangan ini," ucap Wiro seraya memegang pundak Bidadari Angin Timur.
Wiro dan Bidadari Angin Timur kemudian berjalan kembali ke arah rombongan. Tiba-tiba, tiga bayangan melesat dan memeluk Wiro!
"Wiro saudaraku!" teriak Lakasipo si Hantu Kaki Batu, diikuti oleh Setan Ngompol dan Naga Kuning.
"Weleeeeh-weleeeh... ada yang datang sambil gandengan tangan nih! Boleh dong aku juga digandeng kayak gitu!" kekeh Bujang Gila Tapak Sakti tertawa terbahak-bahak hingga perut gendutnya berguncang.
Selorohan itu membuat wajah Nyi Roro Kidul dan Sri Ratu Ayu Lestari memucat. Ada rasa perih di dada kedua penguasa laut tersebut melihat Wiro menggandeng Bidadari Angin Timur, namun sebagai ratu, mereka memaksa diri untuk berbesar hati.
"Pendekar 212... sungguh bahagia hatiku melihat kau sudah pulih. Kami pikir kau tidak akan kembali saat terlempar ke langit sana," ucap Raja Mataram. Wiro pun menjura dalam. "Maafkan jika kedatangan saya terlambat, Yang Mulia."
"Yang penting kau sudah kembali. Kita punya kesempatan lebih besar untuk menang," ucap sang Maharaja dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba, ledakan keras terdengar dari dalam tanah. Sebuah lubang sebesar sumur muncul di pelataran candi, dan melesatlah beberapa sosok pendekar: Andana Si Harimau Singgalang, Padanaran, Panji Argomanik, Pandu Si Malaikat Maut Berambut Salju, serta Sandaka Arto Gampito yang berhasil menyelamatkan istrinya, Nyi Retno Mantili.
"Kami berhasil, Yang Mulia! Istana Kerajaan Perut Bumi telah hancur!" seru Padanaran.
Sementara itu, Jabrik Sakti Wanara (Uban) dan Intan Suci Angin Timur mendarat agak jauh. Uban ingin bergabung karena melihat ayah kandungnya, Pandu, namun Intan Suci menahannya. "Jangan sekarang Kakang... aku belum siap bertemu Ayah," ucap Intan Suci memelas.
Di tengah kebimbangan itu, sebuah suitan nyaring terdengar dari langit yang gelap!
"Lihat! Ada sesuatu yang aneh pada manusia-manusia jahat di atas sana!" ucap Setan Ngompol. Tokoh-tokoh golongan hitam yang semula diam di udara kini mulai menunjukkan wajah buas. Mata tunggal di dahi mereka bersinar terang.
Tiba-tiba, suara kerontangan kaleng rombeng terdengar, disusul suara Kakek Segala Tahu yang berpuisi:
Mataram oh bumi Mataram
Puing Prambanan menjadi saksi
Ketika para iblis jahat merayap naik
Dan mata kejahatan merambat turun
Selikur para ksatria lautan pasir para durjana
Darah mengalir jauh membasahi pertiwi
Di atas sorak sang angkara murka
Lari mungkin pilihan terselip hati kerdil
Namun sejarah ditulis oleh pemenang
Dan bukan untuk pecundang
Bab 9
Syair yang diucapkan oleh Kakek Segala Tahu, dibarengi suara kerontangan kaleng rombengnya, tanpa terasa membakar dan membangkitkan kembali semangat di dalam diri Raja Mataram dan para pendekar dunia persilatan.
Sri Maharaja Mataram, Raja Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sesaat kemudian, dengan suara bergetar, sang raja pun berucap keras, "Sahabat-sahabat dan para saudaraku, wahai para dewa dan ksatria... Nampaknya ini adalah pertempuran terakhir yang harus kita hadapi bersama. Hari ini kita masih bernapas, itu adalah sebuah anugerah. Jika besok kita pun masih bisa bernapas, maka itu adalah sebuah berkah. Namun, jika takdir menyatakan saat ini adalah saat terakhir kita bernapas, maka satu yang bisa aku janjikan sebagai seorang raja kepada kalian: selembar napas ini tidak akan terenggut dengan begitu mudahnya oleh para durjana di atas sana!"
"Kita boleh mati! Kita boleh binasa! Namun satu yang harus kita ingat, kebenaran tidak akan pernah mati dikalahkan oleh kejahatan! Tetes darah terakhir kita, mari kita curahkan hanya untuk bumi Mataram! Pantang mati tanpa kemenangan! Sekali lagi, pantang mati tanpa kemenangan!!!"
Suara seruan keras berapi-api yang keluar dari mulut sang raja langsung dibalas sahutan teriakan penuh semangat oleh para pendekar dunia persilatan. Bersamaan itu pula, petir terlihat menggelegar dan menyambar bergederapan di langit pagi yang gelap.
Begitu kilatan petir terakhir hilang dari pandangan mata, diiringi suara lengkingan mahadahsyat yang keluar dari mata langit raksasa, para durjana yang dibangkitkan oleh mata langit kekelaman tanpa akhir itu pun dengan buasnya—didahului teriakan serta raungan keras—langsung melesat turun meluruk ke arah para pendekar tanah Jawa!
Melihat datangnya serbuan, para pendekar dan para dewa negeri atas langit yang tersisa pun langsung melesat menyambut dipimpin langsung oleh Yang Mulia Raja Mataram, Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan! Pertempuran hebat pun akhirnya dimulai antara para pendekar dunia persilatan golongan putih melawan tokoh-tokoh jahat yang dihidupkan kembali. Suara denting senjata yang saling beradu dan lesatan puluhan ilmu kesaktian mahadahsyat kembali meraung merobek angkasa bumi Mataram!
Di tengah pertempuran yang terjadi, nampak Lasedayu atau Hantu Langit Terjungkir berdiri diam di tengah medan pertempuran dengan wajah sedih. Ia menatap dua jalur ilmu pukulan sakti yang datang berbarengan menyerang dirinya! Entah mengapa, sang kakek tua dari negeri Latanahsilam ini seolah pasrah kala melihat dua sosok yang menyerang dirinya dengan pukulan jarak jauh tersebut.
Sedetik lagi tubuh sang kakek porak-poranda dimakan serangan, dua jalur ilmu kesaktian lainnya datang langsung memapas serangan dari arah depan! Ilmu Bara Setan Penghancur Jagat yang dilancarkan oleh Hantu Bara Kaliatus dan ilmu Tangan Hantu Tanpa Suara yang dikeluarkan oleh Hantu Muka Dua ke arah Hantu Langit Terjungkir pupus manakala berbenturan langsung dengan ilmu yang dikeluarkan oleh Lakasipo dan Hantu Raja Obat.
"Ayahanda..." seru kedua tokoh Latanahsilam tersebut sembari memburu ke arah Hantu Langit Terjungkir.
"Aku tidak apa-apa..." ucap Lasedayu dengan wajah murung.
"Keparat durhaka! Biar aku yang menghabisi kedua hantu sialan itu!" dengus Lakasipo penuh amarah.
Lasedayu nampak memegang pundak Lakasipo dan Hantu Raja Obat. "Bebaskan dan sempurnakan jiwa kedua saudara kalian itu... Dunia ini sudah bukan tempat mereka lagi," ucap Lasedayu dengan nada sedih.
Hantu Kaki Batu dan Hantu Raja Obat nampak menganggukkan kepala dan langsung melesat ke arah Hantu Bara Kaliatus dan Hantu Muka Dua yang telah kembali mengeluarkan ilmu pukulan masing-masing. Benar-benar takdir yang menyedihkan dari empat orang anak Hantu Langit Terjungkir yang terpisah oleh rencana jahat dan dipertemukan oleh takdir yang menyesakkan dada.
Sementara itu, Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan nampak terlihat sibuk. Telapak tangannya membara kemerahan dan berukuran beberapa kali lipat saat menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Momok Dempet dan Singo Abang.
Nyi Roro Kidul pun terlihat bergerak lincah ke sana kemari mempergunakan selendang hijaunya saat menghadapi amukan Dewi Siluman Bukit Tunggul, Dewi Kala Hijau, dan Nenek Kelabang Merah. Walaupun hanya berwujud sebuah selendang, namun di tangan Sang Penguasa Laut Selatan, selendang tersebut tidak ubahnya seekor naga hijau yang hidup dan menerkam buas ke segala jurusan!
Di tempat lain, Ratu Laut Utara Ayu Lestari nampak mengamuk hebat kala melawan keroyokan Nyi Kuncup Jingga, Ning Kameswari, dan Nyi Harum Sarti—sang Ratu Laut Utara palsu yang pernah menyekapnya dalam penjara dan nyaris membuatnya tewas!
"Aku akan membuat perhitungan denganmu! Kau harus merasakan apa yang kurasakan di dalam neraka sana akibat perbuatanmu, wahai gadis keparat!" teriak Nyi Harum Sarti sambil menjentikkan kesepuluh kukunya.
Sepuluh larik sinar putih nampak melesat ke arah sepuluh titik di tubuh Ayu Lestari, namun segera musnah manakala Sri Ratu Ayu Lestari menghantam ke arah depan dengan menggunakan kedua tangannya! Suara bergemuruh dibarengi rubuhnya satu pohon raksasa manakala angin pukulan yang dilepaskan oleh Ayu Lestari menghancurkan ilmu Sepuluh Kuku Kematian tersebut.
Dari balik pohon yang rubuh, kemudian terlihat melesat Panji Ateleng dan Dewi Dua Musim yang sebelumnya sedang melawan Raja Rencong Dari Utara bersama Wirapati si Pendekar Pemetik Bunga beserta Tiga Setan Darah. Pertempuran dua pasangan pendekar muda ini rupanya sempat terhenti akibat rubuhnya pohon yang terkena angin pukulan Ayu Lestari.
Di tempat lain, Naga Kuning dan Setan Ngompol pun terlibat pertarungan sengit melawan Rangrang Srenggi penguasa Istana Darah, Mayat Hidup Gunung Klabat, Jagal Iblis Makam Setan, serta Ratu Serigala. Dengan gerakan salto, Setan Ngompol terlihat berhasil menghindari terkaman Ratu Serigala, namun dari arah samping datang tendangan Mayat Hidup Gunung Klabat yang memburu ke arah lehernya.
"Tundukkan kepalamu, Kakek bau pesing!" teriak Naga Kuning seraya mengeluarkan ilmu Naga Murka Merobek Langit ke arah Mayat Hidup Gunung Klabat.
Suara keras terdengar dan Mayat Hidup Gunung Klabat terhempas keras membentur sosok Jagal Iblis Makam Setan.
"Terima kasih, Ning! Kalau tidak ada kamu, bisa-bisa leherku ini sudah lepas dari tadi..." kata Setan Ngompol yang berjalan mendekat ke arah Naga Kuning yang masih dalam keadaan siaga.
"Nanti saja terima kasihnya, Kek... Musuh kita masih banyak," ucap Naga Kuning.
"Betul katamu, Ning... Tapi aku kok heran ya? Sebegitu banyaknya begundal-begundal tokoh jahat kayak begini yang dibangkitkan, kok tidak ada batang hidungnya si Pangeran Matahari itu yah, Ning?" ucap Setan Ngompol sambil menghindari serangan tinju yang dilancarkan Rangrang Srenggi.
"Kalau jagoan umumnya muncul paling belakangan, nah penjahat utamanya juga biasanya begitu, Kek. Munculnya paling buntut!" seru Naga Kuning sambil mengeluarkan pukulan sakti Naga Kuning Merobek Langit ke arah lawan-lawannya yang kembali menyerbu.
Pertarungan seru dan menegangkan terjadi di berbagai tempat di areal bekas Candi Prambanan. Panji Argomanik sang Singa dari Gunung Bromo terlihat dengan tangkasnya meladeni serangan Ki Ageng Tunggul Akhirat dan saudaranya, Ki Ageng Tunggul Keparat. Kemudian Andana si Harimau Singgalang dengan sigap meladeni serangan kompak kakek-nenek Sepasang Hantu Bercinta, Luhjahillio dan Lajahillio.
Tidak jauh dari tempat itu, Padanaran dan Karaeng Uleng Tepu terlihat bertempur melawan keroyokan dua Gadis Bahagia (Luhkenanga dan Luhkemboja), Mahesa Birawa, dan Sarontang.
"Ah, badik bagus! Serangan bagus pula! Senangnya diriku dapat lawan tarung satu tanah tempat kelahiran..." ucap girang Karaeng Uleng Tepu kala meladeni serangan Badik Sumpah Darah di tangan Sarontang.
Di satu sisi lain, sinar berwarna putih nampak berkali-kali melesat dari boneka kayu bernama Kemuning yang berada dalam pegangan Nyi Retno Mantili. Sinar-sinar tersebut laksana hidup, memancar dan menghantam ke arah Patih Wirabumi dan Adipati Jatilegowo yang mengeroyok Sandaka Arto Gampito si Manusia Paku dan Tubagus Kesumaputera alias Jatilandak!
Di bagian yang lain, nampak Anggini dan Mahesa Kelud juga terlihat sibuk meladeni dua Sinuhun Merah Penghisap Arwah, sementara Purnama dan Mahesa Edan bertarung berdampingan melawan Ketua Seratus Jin Perut Bumi dan Empat Mayat Aneh.
Jika di darat pertarungan berlangsung seru, maka di udara Mataram pun terjadi pertarungan yang tidak kalah hebatnya. Intan Suci Angin Timur dan Jabrik Sakti Wanara nampak melesat ke sana kemari melawan Datuk Lembah Akhirat yang menggunakan sepasang sarung tangan penyedot batin miliknya!
Namun, ada hal yang lucu dan cukup menarik perhatian dalam pertarungan kali ini. Yaitu apa yang terjadi pada Pendekar 212 kala berhadapan dengan satu nenek berpakaian kulit kayu yang berwujud seperti burung berparuh bengkok, dikenal dengan sebutan Hantu Santet Laknat.
Bukannya bertarung, si nenek malah merengek-rengek di kaki Pendekar 212 dengan mesranya! Berulangkali si nenek nampak merayu dan membujuk serta mengungkit-ungkit tentang pernikahannya dengan Wiro di negeri Latanahsilam. Bidadari Angin Timur, yang sebelumnya sedang berkonsentrasi bertarung menghadapi Hantu Tangan Empat, sampai memerah mukanya karena jengah dan marah!
Sang gadis kemudian bergerak cepat meninggalkan musuhnya, menghampiri Wiro, lalu meraih kerah baju sang pendekar dan melempar tubuhnya ke arah Hantu Tangan Empat!
"Kau lawan kakek kelebihan tangan itu! Biar nenek gatal ganjen ini aku yang lawan!" dengus sang gadis. Kekasih Pendekar 212 ini rupanya sedang terbakar api cemburu!
Dari sekian banyak pertempuran, pertarungan antara Lasedayu, Latampi, serta Dewa Tuak dan sisa-sisa para dewa-dewi melawan Lamanyala dan Lakarontang mungkin adalah yang paling mendebarkan. Bagaimana tidak? Para tokoh sudah mencoba menghantam dengan pukulan jarak jauh, namun selalu berhasil dipatahkan oleh kobaran dinding api yang dilepaskan oleh dua sosok tersebut.
Hawa di gelanggang pertempuran bekas Candi Prambanan benar-benar serasa berada di dalam tungku neraka!
"Oladalaaah... Jadi ini yang bikin udara jadi panas seperti panggangan singkong bakar? Ayo Ponakanku, bantu pamanmu ini mendinginkan suasana..." ucap Bujang Gila Tapak Sakti yang melesat sambil menarik Pandu si Malaikat Maut Berambut Salju.
Dinding-dinding kobaran api langsung dibalas kontan oleh serangan dinding es yang datang bertubi-tubi! Benar-benar dahsyat kepandaian dua orang berinti es dan salju yang baru bergabung melawan Lamanyala si bekas utusan dewa dan Lakarontang si jenazah simpanan ini.
Bab 10
Sementara itu, tanpa terasa matahari semakin naik tinggi memuncak. Semakin lama, para pendekar dan Raja Mataram pun semakin mampu menyudutkan dan akhirnya membinasakan sebagian para durjana yang dibangkitkan oleh Mata Langit Raksasa. Semakin naik posisi matahari, kekuatan dari para durjana itu pun makin melemah.
Raja Mataram yang berhasil membinasakan Momok Dempet dan Singo Abang dengan Keris Widuri Bulan dan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi adalah yang pertama kali menyadari hal itu. Kemudian diikuti oleh Lasedayu dan Latampi yang juga telah berhasil menjatuhkan Lakarontang dan Lamanyala dengan bantuan Dewa Tuak, Bujang Gila Tapak Sakti, dan yang lainnya.
“Kakek Lasedayu… Kakek Latampi… Para durjana ini sudah jauh melemah! Aku perlu bantuan kalian berdua seperti yang pernah kita bahas sebelumnya!” teriak Sang Raja ke arah Hantu Langit Terjungkir dan Si Penolong Budiman.
Hantu Langit Terjungkir dan Si Penolong Budiman nampak saling berpandangan dan kemudian terlihat mengangguk berbarengan. Latampi kemudian terlihat memasang kuda-kuda dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah langit. Lalu Lasedayu nampak bersalto beberapa kali di udara dan kemudian hinggap di atas kedua tangan Latampi!
Kedua kakek asal Latanahsilam ini kemudian terlihat memejamkan mata dan mulut mereka terlihat komat-kamit mengucapkan suatu ajian. Tiba-tiba, getaran yang cukup kuat terasa di bumi. Berbarengan dengan mencuatnya sinar berwarna putih dari tubuh Latampi dan Lasedayu yang saling menopang, tubuh-tubuh para durjana tokoh jahat yang masih tersisa tiba-tiba mengambang dan naik ke udara!
Tiba-tiba Lasedayu mengeluarkan pekik panjang dan diikuti juga oleh Latampi! Tubuh Lasedayu kemudian terlontar sampai jauh ke langit akibat tekanan dorongan yang dilakukan oleh Si Penolong Budiman. Pada ketinggian tertentu, tubuh kakek yang memutuskan untuk tetap hidup dalam keadaan terjungkir ini kemudian kembali turun ke bumi dengan dua tangan terpentang lebar! Dan yang paling hebatnya adalah awan-awan yang berada di langit kemudian terlihat saling bergabung menyatu menjadi sosok sepasang telapak tangan raksasa dan turut turun bersama sosok Hantu Langit Terjungkir!
Tidak sampai di situ, Latampi yang berada di bumi dan juga sedang merentangkan tangan ke atas kemudian kembali berteriak. Dari dalam tanah muncul sebentuk telapak tangan raksasa yang naik ke atas menjemput turunnya tapak awan raksasa yang dibawa oleh Lasedayu!
Inilah wujud dahsyat ilmu gabungan Menebar Budi Menjungkirbalikkan Langit yang dihadiahkan Simpul Dewa Agung Penyangga Langit dan Bumi kepada dua orang kakek baik yang selama hidupnya banyak mengalami kemalangan ini.
Para durjana yang melayang mumbul dan berada di udara seakan-akan bergerak tertarik ke tengah-tengah tangan awan dan tangan bumi. Saat kedua tangan Latampi dan Lasedayu akhirnya saling bertemu, maka bertemu jugalah tangan awan dan tangan bumi yang berbentuk bongkahan tanah raksasa dengan para durjana di tengah-tengahnya!
Suara ledakan kembali berhamburan dibarengi letusan bertebarannya bebatuan dan tanah, serta asap awan yang tercerai-berai akibat benturan mahadahsyat hasil pertemuan kedua tangan dari ilmu Menebar Budi Menjungkirbalikkan Langit yang dikeluarkan oleh Lasedayu dan Latampi!
Begitu dahsyatnya ilmu Menebar Budi Menjungkirbalikkan Langit yang dikeluarkan oleh Latampi dan Lasedayu ini membuat para durjana tokoh sesat yang terkena dampak pukulan nampak meraung mengeluarkan suara yang menyayat hati! Tubuh mereka yang terkena himpitan tenaga tangan awan dan tangan bumi ini langsung terlihat retak rengkah dan kemudian pecah berhamburan. Sejurus kemudian, langsung berubah menjadi berkas asap hitam yang lagi-lagi membumbung tinggi dan kembali masuk ke Mata Langit yang menggantung di udara.
Kejadian aneh kemudian terjadi manakala Mata Langit Raksasa yang menyerap puluhan asap hitam sisa-sisa raga para durjana yang musnah nampak mulai mengecil dan terus menciut. Hingga akhirnya, ukuran Mata Langit yang semula begitu besarnya kini bentuk dan ukurannya tidak ubahnya sosok mata normal biasa!
Kejadian selanjutnya sungguh benar-benar tidak dapat ditebak. Setelah menyerap habis asap dari para durjana yang telah dikalahkan, dari Mata Langit itu sendiri kemudian keluar jalinan otot, daging, dan serat serabut saraf yang saling membelit dan saling menjalin bertumbuh menjadi satu. Lalu membesar membentuk satu sosok tubuh manusia sempurna yang kemudian terlihat terbungkus dengan sendirinya oleh serat pakaian yang seolah hidup membungkus tubuh sosok penjelmaan baru dari Mata Langit. Sosok ini, walaupun dikatakan sempurna berwujud manusia, namun wajah pria ini sangat menakutkan, membuat siapa pun bergidik melihatnya.
Hidungnya terlihat hancur, serta pipi kiri dan rahang kirinya melesak ke dalam. Begitu pun mata kirinya juga nampak hancur dan turut melesak ke dalam. Namun yang membikin ngeri dan membuat tampilan manusia satu ini terlihat menakutkan adalah keberadaan sebuah kitab yang terbuat dari kulit yang memancarkan aura seram, terlihat melekat terjahit di dadanya. Di tangan kanannya, sang pria juga terlihat memegang sebuah lentera aneh. Lentera aneh tersebut memiliki bagian yang tembus pandang, terbuat dari kaca tebal berwarna merah, kuning, dan hitam. Pegangannya terbuat dari logam yang membentuk ukiran kepala naga!
"Apa kataku...!" seru Naga Kuning kepada Setan Ngompol kala melihat sosok penjelmaan Mata Langit kali ini. "Sudah kubilang pangeran kampret itu pasti jagoan terakhirnya! Lagu lama! Gampang ketebak!" seloroh sang bocah sambil memencongkan mulutnya.
"Kau benar, Ning! Laris sangat ini pangeran, yah... Sogokannya sama iblis neraka mantap kali sampai bisa nongol di bumi berulang-ulang..." ucap Setan Ngompol sambil terkekeh geli, namun kemudian kembali membekap celana kuyupnya.
Benar seperti apa yang dikatakan oleh Naga Kuning, sosok yang kali ini dibangkitkan dan dijadikan perwujudan oleh Mata Langit Kekelaman Tanpa Akhir adalah Pangeran Matahari si Segala Licik dan Segala Congkak!
Pendekar 212 terlihat mengusap mukanya sambil memandang ke arah sosok Pangeran Matahari yang masih menggantung di udara dalam keadaan menutup mata. "Lagi-lagi aku harus berhadapan dengan pangeran geblek satu ini... Entah nyawanya yang rangkap atau memang manusia kapiran ini punya keberuntungan yang tidak ada habis-habisnya... Susah benar dibikin mati!!" keluh sang pendekar.
Satu tangan terlihat memegangi pundak Pendekar 212 dan ini membuat Wiro berpaling ke arah orang yang memegangi pundaknya. "Aku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, Wiro... Sosok di atas sana memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh jahat sebelumnya yang kita lawan tadi," ucap Karaeng Uleng Tepu yang berdiri di sampingnya.
"Aku mengerti, Karaeng... Aku pun turut merasakan apa yang kau rasakan. Jujur, aku telah berkali-kali melawan dan mengalahkan sosok manusia kapiran di atas sana... Namun kali ini rasanya ada sesuatu yang berbeda dari kehadirannya. Sesuatu yang lebih jahat dan kejam..." desis Wiro.
Tiba-tiba, seluruh tubuh para pendekar dan Raja Mataram beserta kedua ratu dan para dewa yang ada di situ terasa berat dan tidak dapat digerakkan!
"Celaka! Ini pengaruh Kabut Dewa!" teriak Panji Ateleng.
"Tidak mungkin! Harusnya Kabut Dewa sudah dimusnahkan saat kehancuran Kerajaan Perut Bumi dan juga berputarnya kembali Poros Buana. Ini harusnya sesuatu yang lain..." sambung Dewi Dua Musim.
"Bagaimana bisa begini, Kakang Wanara? Aku sudah membebaskan Kiai Naga Waskita dan Kiai Naga Wisesa dari Pasak Pemasung Dewa... Bahkan Uwak Datuk Rao Bamato Ijo sampai mengorbankan hidupnya hanya untuk melawan Raja Serigala Kabut Taring Besi di Poros Buana sana. Jadi bagaimana bisa kabut ini mendadak muncul kembali, Kakang?" ucap panik Intan Suci Angin Timur kala dirasakannya tubuhnya terasa berat tidak bisa digerakkan karena belitan kabut yang merayap dari kaki hingga ke sekujur badannya.
Setelah berhasil mengalahkan Datuk Lembah Akhirat, Intan Suci Angin Timur dan sang kakang memang langsung turun menginjakkan kaki dan tanpa sadar ikut terbelit oleh kabut yang tiba-tiba muncul.
"Kurasa ini bukan Kabut Dewa seperti sebelumnya, adikku... Jika ini Kabut Dewa, harusnya Kitab Seribu Bintang yang sudah berisi Bunga Tanjung Kasih Dewa di punggungku bisa menghalaunya... Tapi ini tidak! Kabut ini jauh lebih kuat daripada Kabut Dewa!" jawab Jabrik Sakti Wanara.
Dalam keadaan menegangkan di mana sekujur tubuh semua orang yang ada di tempat itu tidak bisa bergerak karena terbelit kabut berbalut halimun tipis, tiba-tiba sosok Pangeran Matahari terlihat mengarahkan Lentera Iblis di genggamannya ke arah bawah. Lentera di tangannya tiba-tiba berpendar dan diikuti oleh berpendarnya Kitab Wasiat Iblis yang terjahit di dadanya.
Dibarengi bentakan sang pangeran, dua lajur sinar berwarna hitam pekat nampak keluar dari Lentera Iblis dan Kitab Wasiat Iblis! Kedua cahaya hitam tersebut terlihat saling membelit kemudian menyatu dan berubah membesar beberapa kali lipat, lalu langsung menggebrak menuju ke arah raja dan para pendekar yang terjebak terbelit oleh kabut aneh yang datang secara tiba-tiba!
"Celaka! Kita tidak bisa mengeluarkan ilmu kesaktian yang kita miliki. Kabut sialan ini menghalangi kita melakukan pemusatan tenaga dalam!" keluh Anggini yang juga, seperti yang lain, berada dalam keadaan terkunci.
Sesaat lagi lajur pukulan jarak jauh berukuran sepemelukan pohon beringin ini menghantam raja dan para pendekar, tiba-tiba dari balik awan yang bergerombol di atas langit, melesat memapak satu sinar berwarna keemasan yang langsung menghantam pukulan milik Pangeran Matahari!
Suara dahsyat kembali menggelegar di udara, dan bersamaan dengan ledakan tumbukan di udara, kabut aneh yang sebelumnya menyekap dan membelit tubuh para pendekar pun sontak langsung sirna! Raja dan para pendekar akhirnya bisa kembali menggerakkan tubuh mereka.
“Kita sudah bisa bergerak lagi, Ning! Tapi sinar apa itu yang tadi datang menghantam pukulan pangeran keblinger itu ya, Ning?” tanya Setan Ngompol seraya memeriksa sekujur tubuhnya dengan tangannya.
Setelah puas memeriksa, enak saja kakek bermata jereng ini mengelap tangan basahnya ke punggung pakaian Naga Kuning! Kontan saja si bocah langsung menjauh dan memaki panjang pendek.
Bab 11
Sementara itu, Sri Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan nampak memandang gerombolan awan di atas sana dengan pandangan tegang. Jantung sang raja berdegup begitu kencang.
"Sang Hyang Jagatnatha! Apa benar hari ini adalah hari yang telah ditentukan itu...?" Sang raja nampak mengelus-elus dadanya, berusaha menahan debaran jantungnya yang berdegup laksana derap kaki kuda!
Pangeran Matahari nampak perlahan membuka kedua matanya. Kegeraman luar biasa terpancar dari roman muka sang pangeran yang segala licik dan segala congkak tersebut. Dengan penuh amarah, sang pangeran terlihat memalingkan wajahnya ke arah gerombolan awan putih, tempat sebelumnya keluar sinar berwarna keemasan yang menghadang pukulan yang dilepaskannya.
Gerombolan awan yang dilihat oleh Pangeran Matahari, raja, serta para tokoh lainnya sebelumnya terlihat seperti awan putih biasa pada umumnya. Namun, beberapa saat kemudian, awan tersebut terlihat seperti hidup, beranjak turun mendekat ke arah para pendekar! Dalam sekejap, kumpulan awan tersebut terlihat memancarkan cahaya putih, lalu dari balik awan putih yang bergerombol tersebut tiba-tiba muncul tujuh sosok yang memancarkan cahaya keemasan.
Ketujuh sosok tersebut adalah sosok raja-raja Mataram generasi terdahulu, mulai dari: Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, Rakai Kayuwangi Dyah Panangkaran, Rakai Kayuwangi Dyah Lokamahendra, Rakai Kayuwangi Dyah Indrarajasa, Rakai Kayuwangi Dyah Baladewa, Rakai Kayuwangi Dyah Asmaratungga, dan terakhir Rakai Kayuwangi Dyah Antawijaya—ayahanda terkasih Sri Maharaja Mataram terakhir, Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan!
Tujuh raja Trah Rakai Kayuwangi kembali berkumpul membentuk lingkaran di langit Mataram! Dan bukan hanya itu saja, di balik lingkaran para raja terdahulu bumi Mataram ini, berjejer pula barisan tokoh dunia persilatan golongan putih yang telah tiada. Mulai dari Nyanyuk Amber, Raja Penidur, Kiai Gede Tapa Pamungkas, Datuk Rao Basaluang Ameh, Resi Bathara Padma (atau lebih dikenal dengan nama Aryo Segoro sang Pendekar Kapak Maut Naga Geni) dan pasangannya Pendekar Pedang Naga Suci Kinanti Saraswati, Sinto Weni dan Sukat Tandika, Resi Kandawa Abithar, Datuk Perpatih Alam Sati, dan masih banyak tokoh putih lainnya yang gugur dalam pertempuran melawan Kerajaan Perut Bumi.
Raja termasuk para tokoh dari golongan putih nampak meneteskan air mata penuh kebahagiaan kala melihat orang-orang bercahaya yang muncul dari balik awan bersama rombongan Maharaja Mataram terdahulu. Termasuk di dalamnya Pendekar 212 kala melihat sang guru, Sinto Gendeng dan Sukat Tandika, berada di jajaran para tokoh silat golongan putih yang berdiri di belakang barisan raja-raja Mataram.
"Allah Maha Besar! Akhirnya aku bisa kembali melihat dirimu, Eyang..." ucap sang pendekar dalam hati dengan mata haru.
Di saat semua orang masih terpana akan kedatangan rombongan raja Mataram terdahulu dan para tokoh sepuh dunia persilatan tersebut, mendadak satu suara penuh wibawa terdengar menggelegar dari mulut ketujuh raja Mataram!
"Tan Kena Wola-wali Berbudi Bhawalaksana... Tan Kena Wola-wali Berbudi Bhawalaksana...! Titah Raja Tidak Akan Terulang. Teguh Bagaikan Karang, Ganas Bagaikan Ombak... Sabda Pandhita Ratu... SABDA PANDHITA RATU MANUNGGALING KAWULA GUSTI! Rawuh Pamungkas Satrio Piningit! Rawuh Pamungkas Satria Piningiiiiittt!!!! RAWUUUH PAMUNGKAS SATRIO PININGIIIIITTTTTT!!!"
Begitu suara gemuruh Sabda Pandhita Ratu Manunggaling Kawula Gusti yang keluar dari mulut ketujuh raja Mataram tersebut berhenti, cahaya keemasan dibalut warna pelangi berbentuk aksara Jawa tiba-tiba nampak menyeruak berpendar dari tubuh ketujuh raja Mataram terdahulu yang melayang di angkasa.
Ketujuh cahaya tersebut kemudian bersatu, melesat sesaat, dan kembali pecah menjadi empat bagian. Satu bagian melesat menuju ke arah Raja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Pasingsingan, dan sisanya melesat menuju ke arah Pendekar 212, Mahesa Edan, dan Mahesa Kelud!
Raja dan ketiga pendekar bumi Mataram ini kemudian nampak seolah terbelit cahaya pelangi keemasan dan turut pula nampak berpendar. Lalu dengan satu sentakan dahsyat ke udara, tubuh raja dan ketiga pendekar tersebut nampak melesat ke angkasa dengan kecepatan luar biasa!
Satu cahaya yang teramat menyilaukan tiba-tiba melintas manakala tubuh keempatnya yang terbungkus aksara Jawa keemasan ini nampak mulai menyatu dalam satu bentuk bola cahaya yang berwarna pelangi keemasan! Bola cahaya tersebut melesat tepat ke arah Pangeran Matahari yang mengambang dengan pongahnya. Lalu, setelah berjarak sepuluh tombak, bola cahaya tersebut nampak meledak menggelegar dan luruh menjadi serpihan cahaya yang menyisakan sosok putih bercahaya, berpendar lembut, yang nampak turut pula berdiri mengambang gagah di hadapan Si Segala Licik Segala Congkak!
Pangeran Matahari nampak menyipitkan matanya yang memang tinggal sebelah itu sambil menatap menyorot tajam ke arah sosok bercahaya di hadapannya. Di depannya, berdiri melayang sosok seorang pria berambut panjang terurai yang mengenakan kain putih panjang berselempang di dada hingga ke kakinya. Wajahnya tidak terlalu terlihat jelas karena selubung cahaya yang memancar dari wajah sang pria.
Di atas kepala sang pria terlihat sebuah mahkota yang nampak mengambang melayang dan memancarkan warna keperakan. Tangan kirinya nampak bersedekap di depan dada, sementara tangan kanannya terlihat menggenggam sebilah senjata berwujud aneh. Senjata yang dipegangnya pada bagian pangkal nampak seperti sebuah kapak bermata dua, namun di tengah-tengah kapak tersebut bilahnya nampak terus menjulang memanjang dan berwujud pedang! Apalagi kalau bukan Kapak Pedang Naga Dewa 212 yang ada dalam legenda!
Melihat sosok bercahaya yang berdiri melayang tegap di udara memegang Kapak Pedang Naga Dewa 212, tanpa terasa air mata merembes di sudut mata Dewa Tuak. Saat lengannya kemudian disentuh oleh Anggini, Dewa Tuak nampak memalingkan wajah dan tersenyum ke arah sang murid.
"Tidak kusangka di usiaku yang sudah bangkotan bau tanah ini... Gusti Allah masih memberiku anugerah kesempatan untuk melihat langsung turunnya Satrio Piningit yang hanya pernah kudengar di dalam legenda... Kita masih punya harapan... Dunia persilatan masih punya harapan, muridku..." ucap Dewa Tuak dengan suara bergetar. Sang murid pun nampak mengangguk penuh rasa haru.
Melihat senjata yang dipegang oleh sosok Satrio Piningit—yang merupakan perpaduan Kapak Maut Naga Geni 212 dan Pedang Naga Suci 212 yang keduanya semula tertanam di dada Wiro—sang pangeran nampak mengernyitkan kedua alisnya. Tiba-tiba, seolah hidup, Kitab Wasiat Iblis yang terjahit di dadanya nampak bergerak liar!
Satu per satu benang urat darah yang menyatukan kitab tersebut ke kulit dada Pangeran Matahari mulai terlepas. Begitu benang urat darah yang terakhir terlepas, seolah hidup, kitab tersebut nampak bergerak merayap ke arah lengan Pangeran Matahari yang memegang Lentera Iblis! Kitab tersebut, bagaikan memiliki nyawa, nampak langsung membelit lentera di tangan Si Segala Congkak. Lentera dan kitab tersebut tiba-tiba mengeluarkan nyala kobaran api berwarna hitam yang sangat besar, sehingga membuat Pangeran Matahari terpaksa melepaskan pegangannya pada logam pegangan lentera.
Bab 12
Setelah beberapa saat berlangsung, kobaran api hitam besar yang nampak melayang tersebut terlihat bergerak kembali ke arah tangan Pangeran Matahari yang langsung menyambutnya. Sosok kobaran api tersebut perlahan mulai berubah menjadi satu bentuk pedang hitam membara di tangan Pangeran Matahari!
Pangeran Matahari untuk beberapa saat memperhatikan benang urat darah api yang timbul dari gagang pedang yang kemudian membelit dan memasuki pergelangan tangannya. Satu kekuatan yang teramat dahsyat dan penuh kebencian merasuk dari genggaman tangannya melalui Pedang Kitab Lentera Iblis yang berada di genggaman tangannya!
"Makhluk Putih..." suara Pangeran Matahari terdengar berat dan dalam, seolah dikeluarkan dari dalam jurang tanpa dasar. "Aku tidak mengenali wujudmu... Namun aku masih bisa dengan jelas membaui dan merasakan bahwa di dalam wujudmu itu, terdapat sosok yang paling kubenci di dalam seluruh jiwa dan kesadaranku yang masih tersisa..." lanjut sang Pangeran.
"Wiro Sableng Haram Jadaaah!!! Terkutuk dirimu, keparaaat...!!! Aku tahu kau ada di dalam sana...!!!" teriak Pangeran Matahari sembari menunjuk dengan telunjuknya yang bengkok ke arah sosok bercahaya dan berbaju putih di hadapannya.
"Siksa api neraka tidak membuat dendamku luntur, wahai Pendekar Dua Satu Dua! Pedih dera dan rajaman cambuk serta gergaji penghuni neraka pun tidak juga membuat dengkiku surut dan pupus pada dirimu!" suara Pangeran Matahari semakin terdengar berat dan bergetar.
"Aku yang terjeblos dalam dunia kegelapan penuh siksa neraka jahanam sama sekali tidak pernah menyangka akan datang kembali kesempatan seperti ini... Memang... Berulang kali aku dibangkitkan... Namun... Berulang kali pula aku kau kalahkan, keparat...!!! Tapi kali ini... Kesempatan pun kembali menyapa... Kali ini... Aku pastiii akan membuatmu..."
Belum lagi menyelesaikan apa yang ingin diutarakannya, ucapan sang Pangeran tiba-tiba terputus manakala satu benda yang melesat dari arah bumi dengan secepat kilat menghantam dan membasahi kepalanya! Letupan-letupan kecil terlihat di wajah sang Pangeran yang dibasahi oleh cairan hangat berbau pesing yang tadi menghantam wajahnya!
Matanya melirik sekilas dan dirinya masih bisa melihat sebuah kaleng rombeng yang tadi menimpa kepalanya terlihat jatuh. Sebuah kaleng rombeng yang sebelumnya berisi air kencing manusia!
"Woooi Pangeran Geblek... Dirimu kebanyakan ngomong! Sudah basi! Kalau mau gelut ya gelut saja! Sudah capek kita ketemu kamu lagi, kamu lagi! Sekali ketemu lagi ini malah ngajak sarasehan! Kalau memang gentar sama Satrio Piningit, tuh... Lawan saja kakek bau pesing ini... Dia tadi yang nimpuk dirimu pakai kaleng gombal isi air kencingnya sendiri...!" seru Naga Kuning sambil menunjuk asal-asalan ke arah Setan Ngompol yang langsung mengumpat panjang pendek.
"Lah kok jadi aku? Kok jadi akuuuu? Dasar bocah setan! Kau yang nimpuk pakai kaleng tadi, bukan aku!" sanggah Setan Ngompol.
"Aku yang nimpuk tapi kalengnya kan isinya air kencingmu, Kek...!!!" balas Naga Kuning sambil meleletkan lidah.
"Kukasih lah karena dirimu yang minta! Mana kutahu kalau kau pakai buat nimpuk kepala orang!" rutuk Setan Ngompol dengan gemas ke arah Naga Kuning yang malah terlihat tertawa terpingkal-pingkal. Sementara itu di dekat Setan Ngompol, Kakek Segala Tahu terlihat mengomel panjang pendek saat menyadari kaleng rombengnya telah raib ditilep Naga Kuning dan dipakai untuk menampung air kencing untuk dilemparkan ke arah Pangeran Matahari!
Dengan sebelah matanya, Pangeran Matahari nampak mendelik tajam ke arah bawah dan secara tiba-tiba sang Pangeran nampak melesat deras ke arah Naga Kuning dan Setan Ngompol!
"Manusia-manusia celaka! Kalian berdua yang harus mati pertama kali!" teriak sang Pangeran dengan penuh kemarahan.
"Tobaaat!! Semua ini gara-gara kelakuanmu, Naga Kuning kampret!" teriak Setan Ngompol seraya menaikkan celananya tinggi-tinggi lalu lari tunggang langgang! Lucunya, walaupun marah dan kesal kepada si bocah berambut jabrik, sang Kakek masih sempat-sempatnya meraih kerah baju si bocah dan membembengnya sambil melarikan diri!
Tubuh Pangeran Matahari yang melesat turun mengejar Setan Ngompol dan Naga Kuning tiba-tiba terhenti di udara kala satu sosok putih terlihat datang menghadang di depannya. Melihat sosok yang menghadangnya, amarah sang Pangeran pun langsung meluap tak terbendung lagi!
"Semua ini gara-gara engkau, makhluk keparat!" teriak buas Pangeran Matahari kepada sosok Satrio Piningit yang menghadang dirinya.
Selarik sinar hitam bergerdepan menggidikkan melesat menyambar manakala Pangeran Matahari dengan penuh kemarahan menyerang menggunakan Pedang Kitab Lentera Iblis ke arah sosok Satrio Piningit! Suara memekakkan dan sinar kehitaman berkiblat di udara, membentur cahaya putih yang keluar bersamaan dengan suara ribuan tawon mengamuk!
Pangeran Matahari nampak tersurut mundur, namun Satrio Piningit yang nampak melintangkan Kapak Pedang Naga Dewa 212 hanya terlihat bergetar sesaat.
"Jahanaam... Akan kukirim kau ke dasar neraka...!" rutuk sang Pangeran sambil kembali melesat terbang dengan pedang terpentang, menjurus langsung ke arah Satrio Piningit!
Pertarungan hebat di tengah udara pun kemudian kembali terjadi di angkasa Mataram. Sinar hitam dan putih nampak melesat ke sana kemari dengan kecepatan luar biasa! Suara-suara ledakan di udara berulang kali pun terdengar akibat terjadinya benturan antara Pedang Kitab Lentera Iblis dan Kapak Pedang Naga Dewa 212 yang dipergunakan oleh Pangeran Matahari dan sosok Satrio Piningit.
Benar-benar pertarungan di udara yang saling mengutamakan kecepatan gerak tubuh laksana kilat dipertunjukkan oleh keduanya. Pertarungan kecepatan yang tidak lumrah ini membuat mereka sudah tidak bisa dilihat lagi oleh orang biasa dengan mata telanjang!
Pada satu kesempatan, saat tusukan Pedang Kitab Lentera Iblis kembali berhasil dipatahkan oleh tebasan Kapak Pedang Naga Dewa 212, secara curang Pangeran Matahari mengeluarkan ilmu pukulan Gerhana Matahari Alam Baka langsung ke arah rombongan Raja Mataram! Satu sinar merah, kuning, dan hitam yang berbau daging hangus serta mengeluarkan hawa panas luar biasa menerjang bagaikan badai, siap meluluhlantakkan apa pun yang menghalangi!
Dengan tawa terbahak, Pangeran Matahari melihat bagaimana serangan curangnya melesat kencang dan luput dari jangkauan serta perhatian Satrio Piningit. Namun, tawa sang Pangeran langsung hilang bagaikan direnggut setan manakala menyaksikan satu kejadian luar biasa yang selanjutnya terjadi.
Dari dalam gugusan awan putih, para sesepuh dunia persilatan yang berdiri diam di belakang ketujuh Raja Mataram terlihat menghentakkan tangan masing-masing, lalu puluhan sinar pukulan beraneka warna pun terlihat melesat membumbung ke angkasa! Tidak sampai di situ saja, satu sosok laksana kilatan bintang kejora kemudian terlihat melesat dari kumpulan tokoh sepuh tersebut dan mempertunjukkan satu keahlian yang sukar untuk dipercaya!
Sosok tersebut terlihat laksana menari indah di antara lesatan berbagai sinar pukulan jarak jauh, lalu kemudian sosok tersebut nampak menggulung semua sinar pukulan tersebut dengan menggunakan kedua tangannya menjadi satu bola sinar pukulan warna-warni mahabesar, untuk kemudian dilepaskan kembali menjadi satu kesatuan ke arah datangnya sinar pukulan Gerhana Matahari Alam Baka milik Pangeran Matahari!
Suara menggelegar disertai angin ribut langsung menerpa dan membuat setiap orang yang ada di tempat itu tersurut mundur beberapa tindak manakala getaran ledakan pertemuan ilmu-ilmu dahsyat yang dibungkus dan dilepas oleh Jaka Pesolek Penangkap Petir ini telak menghantam dan membuyarkan serangan bokongan Pangeran Matahari. Hanya para Raja Mataram dan para sesepuh yang berada di dalam kumpulan awan saja yang seolah tidak terpengaruh oleh dampak tumbukan tersebut.
"Astaga! Ilmu apa yang dipakai sosok pemuda berbaju hitam di atas sana? Tidak pernah kudengar sebelumnya ada orang yang mampu melakukan hal seperti itu! Benar-benar mengagumkan!!" seru Andana si Harimau Singgalang.
"Betul apa yang kau katakan, sahabatku... Benar-benar hebat orang itu... Aku benar-benar tidak akan percaya jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri... Bagaimana bisa ada orang di dunia ini yang mampu menangkap berbagai ilmu pukulan jarak jauh lalu membungkusnya dan kemudian melepaskannya kembali sesuka hati! Benar-benar luar biasa..." desis Panji Argomanik sang Singa Gurun Bromo sambil menatap takjub ke arah sosok Jaka Pesolek Penangkap Petir yang terlihat kembali melesat masuk ke dalam barisan awan bersama para raja Mataram.
Amarah luar biasa kembali menguasai Pangeran Matahari manakala menyaksikan serangan bokongannya dipatahkan secara luar biasa oleh sosok pemuda yang dulu hampir diperkosanya tersebut. Sang Pangeran dengan buasnya kemudian kembali menggenjot tubuhnya di udara dengan pedang terhunus, kali ini diarahkan langsung ke arah gerombolan awan putih.
Namun ternyata usaha dan harapannya tidak segampang itu, karena kembali Kapak Pedang Naga Dewa 212 datang memapak dan menekan sang Pangeran untuk beranjak mundur. Suara teriakan amarah mengegelegar keluar dari mulut miring pencong Pangeran Matahari! Lalu dengan gerakan kalap membabi buta, pangeran yang terlahir bernama Anom ini merangsek maju ke arah Satrio Piningit yang kemudian nampak bergerak indah laksana seekor elang yang terbang lurus di tengah amukan buas rajawali!
Kembali suara denting dan pijar api hasil benturan dua senjata sakti terlihat di langit Mataram. Di satu kesempatan, Kapak Pedang Naga Dewa 212 yang dipegang Satrio Piningit secara tidak terduga dalam gerakan lurus tiba-tiba melenting lentur dan berhasil mengiris urat besar yang ada di tangan Pangeran Matahari! Semburat api berwarna hitam pekat langsung nampak menyembur dari luka tersebut!
"Jahanaaam kau!" teriak Pangeran Matahari yang merasa kesakitan seraya berusaha menghantamkan pedang di tangannya, namun itu semua sudah terlambat. Setelah berhasil merobek lengan Pangeran Matahari, badan pedang kapak yang semula terlihat lentur tiba-tiba menukik dan mengeras kaku, menghujam langsung ke dada pangeran yang sudah beberapa kali bangkit dari kematian tersebut!
Pangeran Matahari nampak berteriak keras manakala Kapak Pedang Naga Dewa 212 perlahan namun pasti memasuki kulit dadanya. Sambil menghujam kapak pedang agar masuk semakin dalam, Satrio Piningit pun terlihat langsung merangkul erat tubuh Pangeran Matahari! Tubuh sang Pangeran nampak mulai dikobari api yang membuncah keluar dari luka di dadanya!
Dengan menahan sakit yang luar biasa, Pangeran Matahari terus melesat tinggi ke angkasa bersama sosok Satrio Piningit yang masih merangkulnya. Tiba-tiba di tengah angkasa, sosok Pangeran Matahari yang terbakar api mulai membesar dan mulai berubah menjadi sesosok ular hitam bermata satu mahabesar yang berusaha naik semakin tinggi ke angkasa!
"Astaga! Coba kalian semua lihat! Pangeran keblinger itu berubah wujud menjadi seekor ular naga raksasa!" teriak Naga Kuning sambil menunjuk ke atas langit.
"Ah yang benar saja, Ning? Apa benar pangeran sontoloyo itu berubah jadi ular raksasa atau ularnya si pangeran yang malah tiba-tiba berubah menjadi naga raksasa?" timpal Setan Ngompol sembari berulang kali memicingkan mata jerengnya.
Mendengar selorohan Setan Ngompol, Naga Kuning sontak memalingkan muka dan mendelikkan mata. "Dasar kakek sedeng! Setidaknya ularnya si pangeran lebih gede dari terong lalap kisut basah kuyup milikmu itu..." cerocos Naga Kuning yang kontan membuat Setan Ngompol terdiam sambil memencongkan mulut.
Sementara itu, bersamaan dengan perubahan sosok Pangeran Matahari menjadi sosok naga hitam raksasa, sosok Satrio Piningit pun tiba-tiba kembali ke bentuk bola cahaya. Lalu diikuti oleh suara ledakan besar, bola cahaya tersebut nampak meledak dan serangkum cahaya bagaikan bintang kejora terlihat melesat jatuh turun ke bumi!
Cahaya yang melesat itu pun kemudian menghantam bumi dan membuat debu tanah menyemburat ke udara. Dewa Tuak dan yang lain lekas memburu ke arah jatuhnya cahaya tersebut, dan di sana mereka mendapati Raja Mataram, Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, dalam keadaan setengah berdiri nampak terbatuk sambil memegangi kepalanya.
"Yang Mulia... Apakah kau baik-baik saja? Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Dewa Tuak sembari memapah bangun sang Raja Mataram.
Setelah mengusap wajahnya yang muram, sang Raja nampak menengadahkan mukanya dan menatap kepergian naga hitam raksasa yang berusaha menggapai ujung langit dengan perasaan kesal. "Mereka bertiga... Mereka bertiga memang benar-benar keterlaluan..." ucap jengkel sang Raja.
Rupanya saat sosok Pangeran Matahari akhirnya moksa akibat tusukan kapak pedang dan berubah menjadi naga raksasa, tubuh Satrio Piningit pun akhirnya turut kembali ke sosok masing-masing, yaitu sosok Raja Mataram, Wiro Sableng, Mahesa Edan, dan Mahesa Kelud.
Dalam waktu yang sedemikian singkat tersebut, Wiro nampak memberikan tanda kepada kedua rekannya untuk menggunakan tenaga lembut guna menghempaskan Raja Mataram lepas dari tubuh naga raksasa agar meluncur jatuh ke bumi demi keselamatannya!
"Maafkan ketidaksopanan kami, wahai Paduka Raja... Tapi Baginda harus tetap hidup demi rakyat Mataram di bawah sana..." ucap Wiro sambil tersenyum, diikuti oleh Mahesa Edan dan Mahesa Kelud yang bahkan sama-sama mengacungkan jempol ke arah Paduka Raja yang meluncur deras turun ke bumi! Hal inilah yang membuat sang Raja sedikit mengkal dan jengkel, namun di lain pihak, ia juga merasa sedih karena mengetahui ketiga pendekar tersebut sengaja mengorbankan diri demi keselamatannya.
Sementara itu, semua yang ada di bumi Mataram dengan tegang melihat bagaimana Wiro dan kedua Mahesa dengan gigihnya berusaha membinasakan ular hitam raksasa bermata satu yang sedang merayap naik ke ujung angkasa. Wiro dengan Kapak Pedang Naga Dewa terlihat menghujamkan senjatanya ke tengkuk sang ular raksasa. Di bagian perut, Mahesa Kelud juga nampak melakukan hal yang sama dengan menggunakan Pedang Dewa Sakti kepunyaannya, sementara Mahesa Edan menggunakan Keris Naga Biru miliknya untuk mengoyak perut bawah dekat bagian ekor.
Ketiganya nampak berusaha menghabisi sang ular raksasa sebelum mencapai tempat yang ditujunya: lubang hitam kegelapan tanpa akhir di ujung angkasa!
Suara lenguhan bercampur raungan keras yang memekakkan telinga terdengar dari mulut ular raksasa kala merasakan sakit yang luar biasa saat ketiga senjata semakin masuk menembus sisik hitamnya. Akibat rasa sakit tersebut, sang ular nampak melesat lebih cepat terbang menuju lingkaran kegelapan di batas langit.
"Jangan biarkan makhluk ini memasuki lingkaran hitam kegelapan tersebut, teman-teman! Dia akan pulih kembali dan dunia kita akan hancur porak-poranda!" teriak Wiro ke arah kedua rekannya.
"Apa yang harus kita lakukan, Wiro? Ujung senjata kita tidak cukup panjang untuk menjangkau bagian dalam makhluk terkutuk ini!" teriak Mahesa Kelud.
"Coba kita secara berbarengan mengalirkan pukulan pamungkas kita melalui gagang senjata masing-masing... Aku rasa cara itu bisa menimbulkan kerusakan yang lumayan!" sambung Mahesa Edan.
"Usul yang bagus! Mari kita lakukan pada hitungan yang ketiga!" teriak Wiro seraya mempersiapkan pukulan Surya Gugur Gerhana di tangan kanannya.
Mahesa Kelud mempersiapkan pukulan Karang Sewu, sementara Mahesa Edan mulai merapal ajian Di Atas Kubur Badai Mengamuk. Namun, belum juga Pendekar 212 memulai aba-aba, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dibarengi teriakan-teriakan bersahutan. Rupanya dari arah lingkaran kegelapan, ratusan ekor makhluk berbulu kelabu yang dikenal dengan sebutan Setan Dari Luar Jagat kembali datang menyerbu!
"Biar aku yang hadapi makhluk-makhluk itu! Kalian berdua lanjutkan rencana kita tadi!" teriak Mahesa Edan. Ia lekas menghantamkan pukulannya ke gagang Keris Naga Biru, lalu berlari di sepanjang badan ular raksasa untuk menyambut serbuan ratusan makhluk tersebut menggunakan Ilmu Silat Orang Katai. Tubuh sang pendekar bergerak laksana angin puting beliung, melempar puluhan setan dari luar jagat jatuh dari tubuh ular raksasa!
Sementara itu, rasa sakit pada bagian ekor membuat ular raksasa mengibaskan ekornya sekuat mungkin. Hal ini membuat pergerakannya melambat. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh Wiro dan Mahesa Kelud untuk menghantam pangkal senjata masing-masing dengan pukulan pamungkas!
Apa yang terjadi setelah itu benar-benar di luar dugaan. Wiro, Mahesa Kelud, dan Mahesa Edan saling berpandangan dengan mata mendelik.
"Celakaaa...!!!" teriak ketiganya bersamaan!
Lalu, dibarengi melesatnya cahaya menyilaukan dari tiga luka di tubuh sang naga, satu ledakan yang luar biasa terjadi di atas langit! Awan hitam bercampur petir dan api nampak menyeruak dalam bentuk cendawan raksasa, menciptakan gelombang energi mahadahsyat yang menerjang menuju bumi.
"Ayaaaaahh...!!!" suara Intan Suci Angin Timur terdengar merobek langit. Sang gadis nampak berlari kencang di udara menuju tempat ledakan, diikuti oleh Jabrik Sakti Wanara dan Bidadari Angin Timur. Sayang, sebelum mereka sampai, gelombang ledakan mahakuat melempar kembali tubuh mereka ke arah bumi.
Ledakan naga hitam raksasa tersebut benar-benar dahsyat hingga menciptakan selaput tebal awan hitam yang menutup cahaya matahari selama berhari-hari. Serpihan abu hitam berguguran laksana hujan gerimis, menerpa para pendekar dan sisa-sisa dewa yang diam terpekur menatap langit kelam. Keheningan mencengkeram pelataran Candi Prambanan. Hanya isak tangis Intan Suci Angin Timur yang terdengar pilu terbawa angin.
Apakah ini adalah harga dari sebuah kemenangan? Tidak ada seorang pun yang tahu.
Sepekan setelah peristiwa tersebut, para tokoh dunia persilatan yang tersisa pun berpisah. Nyi Roro Kidul dan Ratu Laut Utara Ayu Lestari kembali ke kerajaan laut mereka. Begitu pula Raja Mataram yang pamit untuk menata kembali kerajaannya yang porak-poranda. Para leluhur dan dewa-dewi yang tersisa telah kembali ke alam keabadian.
Perpisahan yang paling mengharukan adalah antara Intan Suci Angin Timur dan Jabrik Sakti Wanara. Sang gadis menangis tak henti-hentinya di dada remaja itu. Akhirnya, dengan sedih, Intan Suci melepas kepergian Jabrik yang harus mencari ayahnya, Malaikat Maut Berambut Salju, yang kembali menghilang.
Tempat yang sebelumnya ramai pertempuran kini menjadi sunyi. Di antara ratusan makam, terlihat tiga buah nisan putih berdiri diam di depan pelataran Candi Prambanan. Hanya tinggal empat orang wanita yang tersisa di sana.
Keesokan harinya, Purnama pergi meninggalkan nisan Mahesa Edan dengan langkah gontai. Hari berikutnya, Anggini melangkah pergi setelah lama terpekur di hadapan nisan Mahesa Kelud.
Waktu berlalu, Intan Suci Angin Timur yang diam di hadapan nisan ayahnya, Wiro Sableng, akhirnya bersuara lirih. "Bibi Bidadari pergilah... Nanti Bibi sakit kalau terus-terusan menemaniku di tempat ini..."
Sepasang tangan putih mulus tiba-tiba melingkari leher sang gadis. "Bibi tidak akan beranjak jika kau pun tidak beranjak, Anak Manis..." ucap Bidadari Angin Timur.
"Aku hanyalah seorang anak yatim piatu, Bibi... Aku tidak punya siapa-siapa lagi..." ucap sang gadis sedih.
Bidadari Angin Timur mempererat pelukannya. "Kalau kau mau, kau boleh ikut bersama Bibi... Bibi pun sudah tidak punya siapa-siapa lagi di muka bumi ini..." ucapnya getir.
Tatapan mata gadis itu membuat sang wanita berambut pirang seolah melihat Wiro sedang menatapnya langsung. Bidadari Angin Timur terenyuh, ia mengangkat tubuh Intan Suci dalam pondongannya.
"Aku janji akan menjaga dan merawatnya seperti anakku sendiri, Wiro... Aku berjanji padamu..." bisik sang wanita dalam hati sambil membelai puncak nisan putih di hadapannya.
Penutup
Angin berhembus kencang di tanah Pariaman, Sumatera Barat. Di tengah tegalan sawah, terlihat dua bocah sedang asyik bermain layangan.
"Berat sebelah layanganmu itu, Sarip! Takkan bisa kau putuskan layanganku kali ini!" ejek bocah yang lebih pendek sambil menarik ulur benang. Bocah bernama Sarip itu mendengus dan mengulur tali hingga layangan merahnya melesat lebih tinggi.
Tiba-tiba, layangan Sarip menukik keras dan memutuskan benang layangan temannya. "Kenaaaa...!" teriak Sarip kegirangan.
"Kau curang, Sarippp!!! Kau pasti pakai benang gelasan!!" teriak sang bocah yang kemudian membanting kaleng penggulungnya dan mengejar Sarip ke tengah sawah. Keduanya bergumul di lumpur, namun tiba-tiba suara halilintar menggelegar menghentikan perkelahian mereka.
Sarip lari ketakutan sambil berteriak memanggil ibunya, namun bocah satunya lagi malah diam terpaku melihat pusaran awan gelap. Tiba-tiba, seekor naga hitam bermata satu melesat turun dari awan menuju ke arah sang bocah!
Sesaat sebelum bocah itu dicaplok, melesat tiga bayangan putih dari pusaran awan!
"Mau kabur ke mana kau, makhluk sialan?" bentak satu suara sambil membetot ekor sang naga. Itu adalah seorang pemuda gondrong berbaju putih.
"Tangguh juga makhluk ini sampai bisa menyusup bebas ke masa depan! Nah, sekarang kau makan papanku ini!" ucap pemuda berbaju putih lainnya sambil menghantamkan papan nisan kayu hitam ke kepala naga.
Sebelum naga itu jatuh ke tanah, seorang pemuda berambut putih keperakan melesat dari langit sambil membabat kapak bermata dua ke leher naga! Itulah Pendekar 212 Wiro Sableng! Naga itu pun musnah menjadi abu.
Wiro mendekati sang bocah diikuti Mahesa Kelud dan Mahesa Edan. "Apakah menurutmu dia orangnya, Wiro?" tanya Mahesa Kelud.
Wiro menggaruk kepalanya. Tiba-tiba bocah itu berteriak kegirangan, "Whuoaaa... Kalian Paman-Paman yang luar biasa! Tolong ajari aku, Paman...!"
Wiro memondong bocah itu dan merasakan hawa lembut mengalir. "Dia orangnya... Anak ini orangnya..." desis Wiro haru.
"Kita harus pergi, Wiro... Gerbang Awan Penghantar Raga dan Waktu akan menutup," ucap Mahesa Kelud.
Wiro menurunkan bocah itu. "Aku titipkan sahabatku ini ke dalam dirimu, wahai Bocah Baik... Kutitipkan semesta Dua Satu Dua ini kepadamu..."
Dengan ilmu Menahan Darah Memindah Jazad, Wiro memasukkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke dalam dada sang bocah! Bocah itu merasakan hawa hangat yang kini mendiami raganya.
"Kami pergi, Bocah Baik... Janganlah lupa untuk selalu shalat dan mengaji..." tutup Mahesa Kelud. Ketiganya melesat kembali ke langit dan menghilang.
Bocah itu masih terpaku saat ibunya berteriak dari kejauhan, "Bastiaaaann!!!! Bukan main rupamu kotor begitu! Cepat pulang! Mandi! Nanti kau temani Bapakmu pergi ke Bandar!"
Mendengar kata "Bandar", bocah bernama Bastian itu langsung berlari menyusul ibunya.
Kembali ke masa Mataram, dua tahun setelah pertempuran Prambanan. Di sebuah rumah joglo sederhana di desa Pengadegan, Bidadari Angin Timur sedang memangku Intan Suci yang tertidur lelap.
Ia teringat saat pertama kali bertemu Wiro di desa ini dalam urusan Guci Setan. Tiba-tiba, kilatan petir muncul di padang rumput. Saat ia menoleh, matanya membeliak.
Tiga puluh tombak di hadapannya, seorang pria berdiri tegap memandangnya. Bidadari Angin Timur berlari, namun langkahnya disalip oleh Intan Suci yang sudah lebih dulu melesat.
"Ayaaaaahhh...!!!" isak Intan Suci sambil memeluk pria itu.
Bidadari Angin Timur tercekat, namun sebuah hawa lembut menarik tubuhnya masuk ke dalam dekapan pria tersebut. Ia pun jatuh ke pelukan Pendekar 212 Wiro Sableng.
"Aku kembali... Aku kembali untuk kalian berdua..." bisik Wiro. Tangis kebahagiaan pun pecah di bawah cahaya mentari pagi.
T A M A T
0 comments:
Post a Comment